KOLOM Editor : Ivan Aditya Rabu, 16 Mei 2018 / 13:44 WIB

Nyadran dan Religi

SABTU-Minggu (13-14/5), area kuburan di beberapa tempat yang semula sepi mendadak ramai. Warga blusukan ke kompleks makam untuk nyadran. Tak terkecuali dosen dan kolumnis KR, Dr Sumbo Tinarbuko, yang menembangkan doa dan nyekar untuk ayahanda di alam kalanggengan. Masyarakat pendukung kebudayaan Jawa, sebagian besar masih nguri-uri tradisi nyadran yang dikerjakan pada bulan Ruwah.

Nyadran bukan hanya ritual lawas tanpa makna. Dialah sejatinya bukti kultural manusia Jawa memandang betapa pentingnya gundukan tanah berbatu nisan, sekaligus potret religi Nusantara pra-Hindu Budha. Seabad lampau, jurnalis koran Darmo Kondo sudah memberi perhatian lebih terhadap kuburan dengan menyerat sinonim tentangnya: kramatan, makaman, hastana, pasarean, lan jaratan. Bila dipandang remeh, tak mungkin orang Jawa kala itu sibuk menciptakan dan memperkarakan sinomin tempat memendam jenazah. Terlebih lagi, setiap kuburan tua terdapat cikal-bakal yang diyakini sebagai pepundhen alias tokoh pendiri kampung.

Realitas Historis

Bukti tekstual yang lebih tua lagi, Bromartani (27 November 1873) merekam penggal kisah hastana Kedhung Kopi yang jaraknya sepelemparan batu dari bibir Bengawan Solo. Suatu hari, warga terkejut memergoki potongan tangan jasad manusia yang belum sepenuhnya masuk di tanah kuburan kaum kere (miskin) kota. “Tiyang ingkang angajeni dhateng kamanungsan inggih lajeng mangretos yen pangubur kados makaten wau nama siya-siya sanajana kuburanipun kere pisan,” ujar juru warta sedikit geram bercampur sedih. Termaktub pesan mulia bahwa seluruh tubuh manusia yang dikebumikan haruslah dipastikan masuk, entah dari golongan kaya maupun melarat.

Setahun berikutnya, media cetak tertua di Solo tersebut menurunkan berita tradisi masyarakat Jawa yang bertemali dengan makam yang telah berlangsung berabad-abad. “Kala ing jaman kina, kathah kemawon titiyang ingkang sami mumuja dhateng kakajengan, sela, kuburan tuwin sanes-sanesipun ingkang kaanggep gadhah daya pangawasa asuka begja cilaka,” tulis wartawan Bromartani (5 Maret 1874). Mencuat sekeping fakta berharga bahwa sedari era kuno (prasejarah), kuburan sebagai tempat bersemayam ruh leluhur diyakini mengandung daya keberuntungan dan kemalangan, sering disambangi banyak orang.

Realitas historis yang berhasil didokumentasikan juru pena itu menjembarkan pemahaman masyarakat ‘zaman now’ bahwa kepercayaan dan penghormatan terhadap ruh nenek moyang merupakan agama asli di Nusantara. Kaum cerdik pandai membulatkan kenyataan ini dengan konsep animisme dan dinamisme. Para sarjana Barat menamai agama asli sebagai religion-magis, memuat nilai budaya yang paling mengakar dalam masyarakat Jawa.

Aneka Sesaji

Tiada muluk-muluk masyarakat Jawa klasik mengerek asa. Manakala ‘sembahyang’ dengan aneka sesaji atau membakar menyan, mereka cukup meminta agar anggota keluarga dilimpahi kesehatan, hidup tenteram lahir-batin, serta hasil pertanian bagus. Upaya pemenuhan pengharapan ini melahirkan mitos tentang dhayang dan baureksa yang bersumber pada kepercayaan animisme dan dinamisme sebagai wujud sistem religi. Dengan upacara selamatan dan tradisi nyadran, ruh nenek moyang di kuburan dianggap sebagai dewa pelindung dan ngemong keluarga yang masih hidup. Serpihan pemikiran ini dapat dijumpai dalam jagad pewayangan bahwa ruh nenek moyang dipersonifikasikan dalam bentuk Punakawan. Wayang adalah produk kebudayaan India, sedangkan Punakawan asli buah pikir manusia Jawa yang memandang ruh leluhur sebagai pengayom.

Merangseknya pengaruh Hindu, Budha, Islam, serta kebudayaan India tidak serta merta menggusur kepercayaan asli yang tumbuh subur lewat gelaran upacara, cerita rakyat tentang manusia setengah dewa, dan juga mantra magis. Berarti, pernyataan JWM Bekker (1976) tidak sepenuhnya tepat. Ia berujar, agama asli sepanjang sejarah berulang kali mengalami krisis eksistensi. Kepercayaan lokal terancam survival saban kali didampingi agama-agama yang ‘impor’ dari luar negeri.

Nyata bahwa tradisi nyadran yang masih lestari itu merupakan bukti konkret tidak terjadi krisis animisme-dinamisme asli Jawa. Justru unsur Hinduisme dan Islam yang diserap, dipadukan dengan tradisi kejawen untuk memperhalus dan memperkaya tradisi. Semua ini berkat pendekatan kompromis dan akomodatif yang dijalankan pemuka agama cukup luwes. Di samping naluri kesejarahan warga lokal sendiri masih kuat untuk mengenang leluhur.

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 16 Mei 2018)