DIY Editor : Agung Purwandono Selasa, 15 Mei 2018 / 19:32 WIB

Mulai Ditinggalkan, Tradisi Lontar Terpinggirkan

YOGYA, KRJOGJA.com – Hanya orang-orang tertentu saja yang masih mau membaca naskah lontar. Di Pulau Jawa saja, tidak banyak masyarakat yang masih mengerti tentang tradisi lontar.
 
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi “Membaca Lontar Kuna” Selasa (15/05/2018) di Museum Sonobodoyo Yogyakarta. Acara itu sendiri terselenggara kerja sama Museum Sonobudoyo dengan Jawacana dan Malam Museum. 

Selain diskusi sebagian koleksi lontar kuno yang ada di Museum Sonobudoyo dipamerkan. Tidak hanya milik museum, koleksi pribadi milik praktisi dan pelestari tradisi lontar, Sugi Lanus juga turut dipamerkan. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Selain pameran acara ini juga mencakup diskusi seputar lontar kuno dan pembuatan naskah lontar, serta demonstrasi penulisan naskah lontar. 

Kepala Museum Sonobudoyo, Diah Tutuko Suryandaru mengatakan koleksi naskah lontar ini penting untuk diekspos dan dikenalkan pada khalayak ramai. “Mengenalkan salah satu jenis koleksi ini bisa untuk memberikan pembelajaran juga dari isi naskah lontarnya,” katanya.

Baca Juga : 

Tradisi Padusan di Pengging Menjadi Destinasi Wisata
'Susuh Manuk', Kuliner Tradisional Yang Uenaaak Tenan..
Meriahnya Tradisi Mencari Jodoh di Festival Gondang Naposo

Di Pulau Jawa saat ini tidak banyak masyarakat yang mengerti tentang tradisi lontar. Bahkan masyarakat Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi yang memiliki tradisi membaca lontar sudah mulai meninggalkan tradisinya. 

“Di Banyuwangi ada tradisi membaca lontar pada saat khitanan atau tujuh bulanan, mereka menyebutnya Mocoan Lontar Yusuf. Namun saat ini penulisan pada lontar mulai berpindah ke kertas, karena di Jawa media lontar tidak banyak. Kemudian yang melestarikan juga tidak banyak,” jelas Fajar Wijanarko, Filolog Museum Sonobudoyo. 

Di sisi lain Fajar Wijanarko mengatakan bahwa sulit untuk menggalakan tradisi lontar kembali karena memasuki era modern saat ini peminatnya sangat minim. Proses membuat lontar yang bisa memakan waktu dua tahun nantinya bisa tidak sebanding dengan nilai materiel yang didapat pembuat. 

“Saya pikir orang yang tidak benar-benar senang dan cinta tidak akan menekuni ini,” katanya. Maka dari itu menurutnya yang bisa dilakukan saat ini adalah mengenalkan apa itu naskah lontar. 

Museum Sonobudoyo memiliki kurang lebih 200 naskah lontar, namun yang dipamerkan pada gelaran ini hanya empat karena keterbatasan ruang dan kondisi naskah. Keempat naskah tersebut adalah Perang Badung Melawan Mengwi, Sang Hyang Sarasamucchaya, Bhima Swarga, dan Serat Yusuf. (Nur Syafira Ramadhanti/KR Academy)