Erupsi Freatik Merapi

MASYARAKAT DIY dikejutkan dengan erupsi freatik Gunung Merapi yang terjadi, Jumat (11/5) pukul 07.40 WIB. Banyak yang khawatir melihat asap putih yang membubung tinggi, apalagi saat itu langit sedang cerah. Erupsi freatik sangat berbeda dengan erupsi magmatik yang terakhir terjadi pada tahun 2010.

Erupsi freatik terjadi karena akumulasi gas vulkanik yang ada di pipa kepundan (conduet) di dalam gunung, karena terhalang material lama (tinggalan erupsi 2010). Ditambah adanya rembesan uap air yang dihasilkan gunung, menyebabkan gas menjadi panas dan mendorong material ke permukaan. Selain abu/debu/kerikil dari material yang ada dipermukaan, uap air juga ikut dilontarkan ke atas, sehingga semburannya berwarna putih.

Erupsi freatik Gunung Merapi kemarin, berlangsung sangat singkat hanya berdurasi 5 menit dengan ketinggian kolom erupsi mencapai 5,5 km di atas puncak menyebabkan hujan abu di wilayah DIY dan sekitarnya. Karakter erupsi freatik ini memang berlangsung sangat singkat dan tanpa didahului tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik gunung. Hal ini sangat berbeda dengan erupsi besar Merapi tahun 2010 yang didahului meningkatnya jumlah kegempaan yang signifikan. Karena dinamika letusan yang terkait freatik sangat lemah, sehingga tidak mampu dideteksi oleh konfigurasi pemantauan yang biasa diterapkan untuk letusan magmatik.

Peningkatan saat erupsi freatik kemarin, hanya terjadi pada suhu atau kandungan gas vulkanik yang naik hingga 80 derajat selsius dalam waktu singkat, kemudian kembali normal (diangka 40 derajat selsius) setelah erupsi berakhir. Erupsi freatik tersebut juga tidak menimbulkan awan panas ‘wedus gembel’ dan tidak mengubah morfologi (bentuk) kawah. Jadi meski terjadi erupsi, status Gunung Merapi tetap normal. Masyarakat juga tidak perlu khawatir, karena erupsi freatik terjadi sekali dan tidak ada erupsi susulan.

Saat erupsi terjadi, BPPTKG sempat menginstruksikan warga yang berada di radius 5 km dari puncak untuk mengungsi. Namun segera diturunkan menjadi radius 2 km saat erupsi mereda, sehingga warga yang telah mengungsi diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Erupsi freatik ini merupakan yang ketujuh kalinya setelah erupsi besar tahun 2010 dan bisa terjadi lagi dimasa mendatang. Oleh karenanya BPPTKG membatasi aktivitas aman pendakian maksimal radius 2 km dari puncak (Pasar Bubrah).

(Dr Hanik Humaidah MSc. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi/BPPTKG. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 12 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda