Membangun HOTS Menggairahkan Riset

PENGALAMAN siswa mengikuti ujian nasional (UN), baik menggunakan kertas maupun berbasis komputer sangat berharga, khususnya bagi para guru dan sekolah. Ungkapan keluh kesah tentang tingkat kesulitan soal menjadi masukan dalam menyusun program pengajaran di sekolah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan adanya penurunan nilai hasil UN sebagai dampak dari dimasukkannya beberapa soal dengan standar lebih tinggi (KR, 9/5). Tingkat kesulitan bakal dinaikkan pada UN di tahun-tahun mendatang, dalam upaya meningkatkan daya nalar. Selanjutnya Kemendikbud menganalisis dan mendiagnosa topik-topik yang harus diperbaiki di setiap sekolah untuk setiap mata pelajaran UN. Hasilnya, didistribusikan ke semua Dinas Pendidikan melalui program peningkatan mutu pembelajaran.

Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya nalar atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan maksud mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan, sangat positif. Dengan demikian, sekolah dan para pengajar didorong membawa para siswa mampu memiliki daya kritis yang lebih baik dalam setiap materi pelajaran yang diberikan. Daya kritis tersebut muncul sebagai dampak dari kian tumbuhnya nalar dari topik pelajaran yang disampaikan guru.

Daya kritis itu pula yang kemudian memacu anak untuk mampu menyelesaikan persoalan yang dimunculkan dalam sebuah topik di mata pelajaran tersebut, sehingga pada akhirnya memiliki kemampuan daya cipta, sebagai solusi dari masalah yang dibahas tersebut. Supaya siswa mampu memiliki daya cipta, dalam proses pengajaran, tidak semata-mata menghapal atau mengingat-ingat teori atau ilmu yang didapat, tetapi mengetahui kenapa ilmu atau teori itu muncul. Persoalan apa dibalik munculnya teori dan manfaat apa yang diperoleh dari teori atau ilmu yang ditemukan tersebut. Dengan metoda mengajak siswa mengetahui proses dimaksud, secara tidak langsung siswa akan muncul kemampuan memecahkan masalah.

Upaya memecahkan masalah, dapat dilakukan dengan mengumpulkan referensi dari sejumlah sumber untuk kemudian didiskusikan bersama. Jika memang masalah yang dibahas diperlukan riset untuk mendapatkan jawaban, pengajar dapat mendampingi dan mendorong siswa untuk melakukannya. Karena pada dasarnya, hasil dari penelitian adalah daya cipta. Menggairahkan siswa melakukan riset sangat bermanfaat. Awalnya memecahkan masalah kecil dulu. Seiring dalam perjalanan waktu, daya nalar tumbuh. Kemudian, dilanjutkan memecahkan persoalan lain dalam topik dan pelajaran yang lain.

Demikian pula dalam upaya meningkatan daya nalar untuk menjawab persoalan matematika, atau yang terkait perhitungan dengan mata pelajaran terkait lainnya. Siswa diharapkan diajak memahami proses pembelajaran dengan tidak semata-mata diajarkan bagaimana mengetahui angka dari proses penambahan, perkalian, pembagian. Contoh, 2 + 4 = ...? yang hasilnya 6. Tetapi siswa juga diajarkan bagaimana cara memperoleh angka 6. Untuk memperoleh angka tersebut, banyak langkah atau caranya. 6 = 2 + 4, atau 6 = 1 + 5, atau 6 = 2 x 3, atau 6 = 12 : 2. Dalam konteks ini siswa diajarkan berpikir alternatif, sehingga mereka dalam memecahkan atau menghadapi persoalan tidak hanya melihat dari satu sisi saja, tetapi dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda.

Inti dari penjelasan tersebut, siswa ketika menuntut ilmu tidak hanya belajar dari kenapa ilmu itu muncul (epistimologi), tetapi juga mengandung manfaat apa (ontologi), dan juga punya tujuan apa (aksiologi) dari ilmu tersebut. Konsep seperti ini sebetulnya menjadi bagian dari Kurikulum 2013 (K-13).

Melihat kebijakan pemerintah di atas, dalam tahun ajaran 2018/2019 yang sebentar lagi masuk, guru tidak lagi dituntut untuk mengajar tentang definisi, tetapi bagaimana guru mengajarkan kepada siswa untuk memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan dengan menggunakan nalar. Pada tahap ini, guru diharapkan dapat menggugah daya kritis dan menajamkan pisau analisis dari siswa dalam memecahkan persoalan, yang pada puncaknya pada diri siswa mempunyai kemampuan meta kognisi yang sangat bagus.

(Abdurrahman SPd MPd Si. Guru SMP Negeri 5 Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 12 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda