Risiko dan Perlindungan bagi Polisi

DRAMA penyanderaan petugas kepolisian dan aksi rusuh yang terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob Depok, usai sudah. Dari total 156 narapidana teroris yang memberontak dan menguasai Rutan, semua sudah menyerah. Sebanyak 145 napi dipindahkan ke Nusakambangan, sementara 1 orang napi dilaporkan tewas, dan 10 napi tengah diperiksa lebih intensif karena tidak mau menyerah hingga akhirnya diserbu petugas.

Masyarakat bersyukur, karena aksi penyanderaan dan kerusuhan yang terjadi di Rutan Mako Brimob dapat ditangani setelah sekitar 40 jam lebih dihantui ketegangan dan rasa waswas. Tetapi, yang menyesakkan dada adalah di balik drama pemberontakan napi yang berhasil ditangani, ternyata 5 polisi dilaporkan gugur dalam menjalankan tugas tersebut.

Meski kasus petugas tewas tatkala menjalankan tugas bukan hal baru. Bagaimana pun kisah tentang aparat petugas yang meninggal ketika melawan kejahatan selalu mengundang duka yang mendalam sekaligus rasa simpati. Seperti dilaporkan, 5 anggota kepolisian yang disandera napi di Mako Brimob gugur dengan luka tusukan di sekujur tubuh. Senjata mereka dirampas dan mereka sempat disiksa.

* * *

Sebagai pihak yang bertugas menangani tindak kejahatan dan gangguan terhadap keamanan masyarakat serta negara, salah satu risiko yang dihadapi polisi memang keamanan dan keselamatan dirinya. Berbeda dengan profesi lain seperti pekerja kantoran atau PNS yang lingkungan kerjanya biasa-biasa saja, polisi dalam menjalankan tugasnya sehari-hari selalu menghadapi bahaya.

Polisi bukan hanya berhadapan dengan preman, begal raja tega, perampok dan pelaku tindak kejahatan lain, tetapi dalam kasus-kasus khusus mereka kerapkali berhadapan dengan ulah terorisme yang terbiasa menghalalkan kekerasan untuk mewujudkan tujuannya.

Di lingkungan penjara sekalipun, di mana penjahat atau teroris yang berhasil ditangkap seharusnya menjalani hukuman dan mendisiplinkan diri dengan sanksi yang dijatuhkan, tidak jarang polisi juga masih harus menghadapi risiko perlawanan dari para napi. Peristiwa yang terjadi di Rutan Mako Brimob adalah salah satu contoh betapa riskan situasi yang harus dihadapi polisi ketika mereka menjalankan tugas.

Sebagai manusia yang memiliki keluarga, anak, istri, suami dan orangtua, polisi tentu berhak menjalani kehidupannya tanpa harus terbunuh di tengah jalan. Tetapi, malang tak bisa ditolak dan karena panggilan tugas tidak mungkin dihindari, bukan tidak mungkin polisi harus menyabung nyawa tatkala mereka menjalankan tugasnya. Risiko seperti terkena lemparan batu, terluka karena sabetan penjahat yang melawan, bahkan terbunuh dalam tugas adalah sederetan yang menjadi makanan seharihari aparat kepolisian.

Berbeda dengan citra polisi di mata masyarakat yang terkadang dinilai arogan dan cenderung negatif, kalau melihat apa yang dialami lima orang polisi di Rutan Mako Brimob yang tewas karena dibunuh napi yang memberontak, kita mungkin baru menyadari, risiko dan bahaya selalu mengancam keselamatan polisi setiap harinya. Demi menjalankan tugas, sejumlah polisi terpaksa tewas meninggalkan sanak-keluarganya yang sama sekali tidak menduga atau bermimpi suaminya meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan.

Meski ucapan bela sungkawa mengalir tanpa henti dan berbagai penghormatan diberikan kepada para polisi yang gugur ketika menjalankan tugas, bagi keluarga yang ditinggalkan, tetap saja mereka kehilangan orang yang dicintai. Pada titik ini, kita mungkin baru menyadari, di balik citra polisi yang terkadang dinilai kurang elok, di sana sesungguhnya ada banyak hal telah dikorbankan demi kepentingan masyarakat dan negara.

* * *

Skolnick (1966) dalam bukunya Justice Without Trial menyatakan, kepribadian kerja polisi adalah kewaspadaan dan kecepatan mengantisipasi ancaman. Kepribadian kerja polisi seperti ini, di satu sisi membuka kemungkinan polisi terkadang harus melakukan aksi represif ketika menghadapi ulah penjahat. Tetapi, di sisi lain, kepribadian kerja polisi seperti ini adalah hal yang tidak terhindarkan, dan harus dilakukan tatkala mereka menghadapi musuh atau penjahat yang keji, yang tega bertindak di luar batas peri kemanusiaan.

Kasus gugurnya 5 polisi dalam tragedi di Rutan Mako Brimob adalah tempat berkaca sekaligus momen yang membuka kesadaran kita, bahwa polisi adalah profesi yang sarat risiko, acapkali menuntut kesediaan mereka untuk menyabung nyawa, sementara perlindungan bagi polisi yang menjalankan tugas masih belum banyak dikembangkan di lapangan.

(Bagong Suyanto. Dosen Sekolah Pasca Prodi Kajian Ilmu kepolisian Universitas Airlangga Surabaya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 12 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda