Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 11 Mei 2018 / 12:09 WIB

Upayakan Rupiah Kembali Perkasa, BI Tempuh Langkah Ini

JAKARTA, KRJOGJA.com - Melemahnya nilai tukar Rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. 

Terkait hal tersebut, dan melihat masih besarnya potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang, Bank Indonesia ( BI) secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas. Karena itu, BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo).

"BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo). Respon  kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat, (11/05/2018).

Dijelaskan,  tantangan global saat ini, Bank Indonesia tengah dan akan mengambil langkah-langkah yang tegas untuk memastikan terciptanya stabilitas perekonomian.
Tantangan global terutama siklus peningkatan suku bunga di Amerika Serikat, meningkatnya harga minyak dunia, serta menguatnya risiko geopolitik sebagai akibat meningkatnya tensi sengketa dagang AS-Tiongkok dan pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran, telah mengakibatkan menguatnya dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia, termasuk Rupiah.

Per 9 Mei 2018, selama Mei 2018 , Rupiah melemah 1,2 persen , Thai Bath 1,76 persen, dan Turkish Lira 5,27 persen. Sementara itu, sepanjang tahun 2018 Rupiah melemah 3,67 persen, Pilipina peso 4,04 persen, India Rupee 5,6 persen, Brazil Real 7,9 persen, Russian Rubel 8,84 persen dan Turkish Lira 11,42 persen. (*)