Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Kamis, 10 Mei 2018 / 18:00 WIB

Perkara Utang Piutang, Ratusan Mesin Jahit PT Ladewindo Disita

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Sebanyak 807 mesin jahit milik pabrik garmen PT Ladewindo Manufaktur di Desa Dagen, Jaten disita pengadilan, Rabu (9/5/2018). Pemilik perusahaan itu mengemplang utang pengadaan sarana produkai itu dari Koperasi Cakrawatya Artha.  

"Perkara ini ditangani PN Surakarta. Kami di PN Karanganyar hanya melaksanakan pelimpahan eksekusinya karena lokus berada di sini. Setelah mengecek nomor seri mesin sesuai daftar, kemudian dilakukan penyitaan," kata Panitera Pengganti PN Karanganyar, Agus Muladi kepada wartawan di depan pabrik.  

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Aparat kepolisian, TNI, juru sita serta pemohon eksekusi dari Koperasi Cakrawatya Artha hadir di sana. Namun, termohon eksekusi sekaligus pemilik PT Ladewindo, Roestina Cahyo Dewi tak ada. Menurut Agus, ketidakhadiran Roestina tak menghalangi penyitaan. Eksekusi pun berlangsung damai hingga selesai.

Berdasarkan dokumen no 46/PEN.PDT/EKS/2017/PN. SKT, pengadilan mengabulkan permohonan sita eksekusi berupa 807 unit mesin jahit juki di pabrik garmen itu. Aset tersebut dimasukkan dalam jaminan fidusia no W9.01707.HT.04.06 tahun 2007.

Penjaminannya berkaitan utang Rp 4,5 miliar oleh Roestina ke koperasi yang dipimpin Dwi Esti Nastini. Awalnya, koperasi itu mengabulkan pinjaman dengan masa tenor satu tahun. Namun hingga 10 tahun berjalan, Roestina mengemplang pengembalian. Berita acara eksekusi menyebut, pengadilan sebenarnya memberi kesempatan Roestina menyelesaikan utang piutang itu sejak 22 November 2017. Sayangnya, waktunya tak dipakai sebagaimana mestinya.

"Seharusnya sudah dilunasi pada 2008. Perjanjian penjaminan juga didaftarkan di Kemenkumham. Lalu, karen tak ada itikad baik, maka kami mengajukan penyitaan," kata Dwi Esti. (Lim)