Angkringan Editor : Agung Purwandono Kamis, 10 Mei 2018 / 12:52 WIB

Rock Balancing, Bukan Mistis Tapi Seni

KETIKA ada batu tersusun bertumpuk di sebuah sungai, ada yang menganggapnya sebagai fenomena mistis. Padahal itu tak lebih dari sebuah seni menyusun batu yang disebut rock balancing. Kini bahkan digunakan untuk terapi.

Mengenal Balancing Art Indonesia

Perjalanan dari Kantor Harian Kedaulatan Rakyat di Jalan Pangeran Mangkubumi No 40-46 menuju Selopamioro, Bantul Yogyakarta kami lalui di tengah terik matahari. Perjalanan sepanjang kurang lebih 20 kilometer tersebut tak menyurutkan antusiasme mahasiswa yang tergabung dalam KR Academy untuk berkenalan dengan satu komunitas unik di Yogya, Balancing Art Indonesia (BAI). Berbekal google maps sebagai penunjuk jalan akhirnya sekitar pukul 14.30 WIB kami sampai di tempat tujuan. 

Titik kumpul adalah warung Pak Wandi yang letaknya persis di dekat bekas Jembatan Gantung Selopamioro yang selama ini jadi ikon tempat tersebut. Jembatan yang kerap digunakan untuk berfoto tersebut saat ini hanya menyisakan pondasi saja. Badan jembatan hanyut saat terjadi banjir November 2017. 

Di warung Pak Wandi kami bertemu dengan dua orang anggota BAI, mereka adalah Idi Purbalaksana (30) atau Mas Abee dan Gumilang Sucahyo (27) atau mas Gilang. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab dengan keduanya.

Obrolan berlanjut dengan penjelasan apa itu BAI. Balancing Art Indonesia merupakan sebuah komunitas yang kegiatannya berfokus pada seni keseimbangan objek. Mereka menyusun benda-benda secara seimbang dan alami tanpa menggunakan perekat. 

Batu menjadi objek yang paling umum digunakan, kegiatannya dinamakan rock balancing. Berdiri pada tahun 2013 di Yogyakarta kini anggotanya tersebar di seluruh daerah di Indonesia. "Yang mendirikan mas Suryadi (34) atau kami akrab memanggilanya mas GT," ujar mas Abee. 

Selepas penat perjalanan hilang, kami beranjak untuk menyeberang sungai Oya Imogiri dengan perahu karet. Tempat kami akan bermain rock balancing memang berada di sisi sungai yang lain.  

Mas Abe dan Mas Gilang mengajak kami ke lokasi dimana Komunitas BAI biasa bermain. Saat tiba, kami melihat sudah ada batu bertumpuk yang tingginya sekitar 1,5 meter. "Anggota kami kemarin kelihatannya ada yang bermain kesini," ujar Mas Abee. 

Belajar Rock Balancing Kuasai Style Dasar Dulu

Dengan khidmat Mas Abe menyusun batu demi batu secara vertikal. “Ini menyeimbangkan batu dengan style stacking, menumpuk,” jelasnya. Rock balancing mengenal berbagai style. Stacking adalah style dasar yang paling mudah.
 
Suara gemericik arus sungai dan semilir angin jadi pelengkap suasana jelang sore hari tersebut. Mas Abe tetap berkonsentrasi penuh pada batu-batu yang disusunnya. 

Baca Juga : Rock Balancing, Hobi yang Bisa untuk Terapi

Meninggalkan Mas Abe sejenak, di belakangnya ada Mas Gilang yang sedang mencari batu-batu pipih. Batu itu akan ia gunakan untuk rock balancing dengan style bridge. Ini adalah style tingkat lanjut dalam seni rock balancing karena tingkatannya lebih sulit. 

Mas Abee tengah menyusun batu (Nur Syafira)

Ia memulai dengan meletakan dua batu besar secara berhadapan sebagai pondasi. Lalu ruang diantara kedua batu besar itu diisi dengan susunan batu pipih yang sudah dikumpulkan. Susunan tersebut menghasilkan jembatan batu yang melengkung ke atas. Itulah mengapa style ini dinamakan bridge. 

Suasana menjadi ramai ketika susunan batu milik Mas Abe roboh, semua menyoraki. Kata mereka memang ini uniknya saat melakukan rock balancing beramai-ramai. “Kalau kita nyusun memang kayak orang bisu semua. Jadi waktu nyusun nanti kita diem-dieman ketika ada salah satu yang roboh nanti baru saling menyoraki,” kata Mas Gilang. 

Selain menggunakan style stacking dan bridge mereka juga menggunakan style stone flower. Sesuai namanya batu-batu disusun menyerupai sebuah bunga, di bagian paling atas diletakan batu yang ukurannya lebih besar dari batu-batu di bawahnya. Gaya ini mengharuskan seseorang menguasai dulu style dasar atau stacking. 

Bagi pemula seperti saya menyusun batu seperti ini tidaklah mudah. Kita harus mencari titik nol atau zero gravitasi agar tercapai keseimbangan. Diperlukan kesabaran, fokus penuh, konsentrasi dan ketenangan dalam diri pembuat. Karena itu juga seni ini bisa dikatakan sebagai terapi atau meditasi. 

Kamipun akhirnya tenggelam dalam keasyikan rock balancing. Tentu diiringi suara gelak tawa karena berkali-kali usaha kami untuk menyusun batu tidak berhasil. Saya sendiri akhirnya setelah bisa menyusun batu dengan gaya stacking bisa pula membuat gaya stone bridge meski bentuknya sederhana. 

Bagi kawan-kawan yang tertarik dengan seni rock balancing bisa menyambangi media sosial mereka di instagram @rockbalanceindonesia dan di @balancingartindonesia. Halaman facebook Rock Balancing Indonesia, Halaman Facebook Rock Balancing Indonesia, grup facebook Balancing Art Indonesia.  (Nur Syafira R/KR Academy)