Ekonomi Editor : Danar Widiyanto Kamis, 10 Mei 2018 / 01:31 WIB

Rupiah Makin Tenggelam Karena Dana Asing Terus Keluar

RIAU, KRJOGJA.com - Kurs rupiah semakin tenggelam melawan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ini masih bertahan di kisaran Rp 14.000 per dolar AS akibat sentimen yang datang dari eksternal, terutama kebijakan Amerika Serikat (AS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution dalam keterangannya mengatakan pelemahan rupiah yang berlarut-larut terjadi karena banyak investor asing yang menarik dana mereka. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat dan tidak diimbangi dengan devisa yang melimpah.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Kurs itu tidak ditetapkan, kurs itu hasil pasar. Orang butuh 100 kalau kita punya 100 apalagi 105 enggak ada masalah. Tapi kalau orang perlu 100 kita punya 95, nah ada masalah, kursnya akan melemah," kata dia saat ditemui di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Rabu (9/5/2018).

Dari  data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level 14.074 per dolar AS. Sementara cadangan devisa Indonesia pada posisi April 2018 sebesar USD 124,9 miliar atau turun USD 1,1 miliar dari posisi akhir Maret yang sebesar US$ 126 miliar.

Darmin menjelaskan, asal mula tingginya penarikan dana asing tersebut semenjak AS terus menaikkan suku bunga acuan mereka hingga empat kali berturut-turut.

"Karena si Amerika bilang 'woy ekonomi kita bagus', wah begini begitu, kita mau menaikkan tingkat bunga empat kali'. Orang kemudian mikir wah dia mau menaikkan suku bunga kok Indonesia belum? Dia jual saham dia yang ada di sini, dia jual SUN (Surat Utang Negara) yang beli di sini, dia pergi," ujarnya.

Pada saat investor tersebut memilih meninggalkan Indonesia, mereka perlu membawa dolar AS. Inilah yang menyebabkan permintaan terhadap dolar AS meningkat.

"Pada saat dia pergi, dia butuh valas, dia enggak bisa bawa uangnya rupiah, mau ditaruh di mana kalau rupiah. Artinya, ada tambahan permintaan dari kondisi normal, suplainya enggak nambah dari kondisi normal, rupiahnya tertekan, sederhana sekali," Darmin menjelaskan.

Kendati demikian, mantan Gubernur Bank Indonesia ini menegaskan kondisi rupiah yang terus melemah tidak perlu dibandingkan dengan krisis moneter yang terjadi 20 tahun silam.

"Jangan kemudian digembar-gemborkan wah ini rupiah 14.000, oh lebih buruk itu sudah dekat ke tahun 1999. Tahun 1999 ya ke 2017, sudah 18 tahun, jangan dibandingkan linier begitu," harap Darmin.(*)