Jateng Editor : Danar Widiyanto Kamis, 10 Mei 2018 / 00:30 WIB

Di TPS, Dua Pria Ini Hampir Duel

LAKI-LAKI sangar itu berkali-kali menggebrak meja pendaftaran di sebuah tempat pemungutan suara (TPS) sembari memaki. Petugas pendaftaran, Arif, semula bersikap tenang dan persuasif.

Tapi ketika laki-laki itu mulai menuding-nuding wajahnya, emosi Arif terpancing dan  nyaris terjadi baku hantam. Beruntung petugas keamanan sigap memiting dan memaksa laki-laki itu meninggalkan TPS.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Tapi, tidak lama kemudian laki-laki sangar itu kembali ke TPS sambil cengar-cengir. Sementara beberapa petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengacungkan jempol, "Mantap!,"

Insiden di sebuah TPS antara petugas dan pemilih itu memang hanya salah satu adegan dalam simulasi pemungutan suara di halaman aula KPU Purbalingga, Rabu siang (9/5). Si pemilih tidak bisa menunjukkan KTP-El atau surat keterangan pengganti KTP-El sehingga ditolak petugas.

"Pemilih yang mencak-mencak, petugas yang dicaci maki dan petugas keamanan yang mengusir, semuanya anggota PPK," tutur Ketua KPU Purbalingga, Sri Wahyuni kepada wartawan, Rabu sore (9/5).

Sejak pagi, KPU dan seluruh anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se Purbalingga menggelar simulasi pemungutan suara. Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus melayani pemilih dengan berbagai latar belakang. Termasuk penyandang cacat, lanjut usia dan bahkan pemilih dengan temperamen tinggi.

petugas KPPS termasuk pengamanan, saksi, pemantau dan pemilih diperankan oleh anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se Purbalingga. Simulasi itu dilengkapi tempat pemungutan suara (TPS) lengkap dengan logistik pemilu yang meliputi surat suara, kotak suara, bilik suara, bantalan dan paku dan tinta.

"Karena ini simulasi pemungutan suara pilgub Jateng, gambar pada kartu suara dibikin siluet dan nomor urut diganti dengan angka delapan dan sembilan," tutur Ketua KPU Purbalingga, Sri Wahyuni kepada wartawan, Rabu sore (9/5).

Dari 35 pemilih yang hadir di TPS simulasi, terdapat penyandang disabilitas. Meliputi tuna netra, tuna daksa dan tuna grahita.

"Dalam simulasi itu, kami menghadirkan penyandang disabilitas sesungguhnya," ujar Sri Wahyuni.

Petugas KPPS mampu melayani hak politik para penyandang disabilitas itu dengan baik. Pemilih berkursi roda diarahkan ke bilik suara dengan meja yang memiliki ruang kosong dibawahnya. Sedangkan penyandang tuna netra menggunakan kartu suara template.

"Termasuk mengatasi pemilih yang tidak puas dan bikin keributan," ujarnya. (Toto Rusmanto)