Saat Pencoblosan, KPPS Harus Paham dan Melayani Disabilitas

Penyandang disabilitas mencoblos tanda gambar simulasi. (Foto: Toto R)

PURBALINGGA, KRJOGJA.com - Simulasi pemungutan suara di halaman aula KPU Purbalingga, Rabu (9/5/2018) dibuat semirip mungkin dengan kondisi riil. Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus melayani pemilih dengan berbagai latar belakang. Termasuk penyandang cacat, lanjut usia dan bahkan pemilih dengan temperamen tinggi.

Petugas KPPS termasuk pengamanan, saksi, pemantau dan pemilih diperankan oleh anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se Purbalingga. Simulasi itu dilengkapi tempat pemungutan suara (TPS) lengkap dengan logistik pemilu yang meliputi kotak suara, bilik suara, bantalan dan paku, serta surat suara.

"Karena ini simulasi pemungutan suara pilgub Jateng, gambar pada kartu suara dibikin siluet dan nomor urut diganti dengan angka delapan dan sembilan," tutur Ketua KPU Purbalingga, Sri Wahyuni kepada wartawan, Rabu (9/5/2018) petang.

Dari 35 pemilih yang hadir di TPS, empat diantaranya penyandang disabilitas. Yakni seorang tuna netra dan tiga lainnya tuna daksa. Petugas KPPS mampu melayani hak politik para penyandang disabilitas itu dengan baik. Pemilih berkursi roda diarahkan ke bilik suara dengan meja yang memiliki ruang kosong dibawahnya. Sedangkan penyandang tuna netra menggunakan kartu suara template.

"Dalam simulasi itu, kami menghadirkan penyandang disabilitas sesungguhnya," ujar Sri Wahyuni.

Bahkan, petugas juga mampu mengatasi seorang pemilih yang 'ngamuk' karena tidak bisa mencoblos. Laki-laki sangar itu mencak-mencak sambil jarinya menuding wajah petugas.

"Pemilih itu tidak bisa menunjukkan KTP el atau suket (surat keterangan). Terpaksa kami tolak. Sempat terjadi keributan. Tapi petugas keamanan bisa mengatasi," tutur Ketua KPPS, Ismerlin. (Rus)

 

Tulis Komentar Anda