KOLOM Editor : Ivan Aditya Rabu, 09 Mei 2018 / 08:57 WIB

Mengenang Gejayan Kelabu

TEPAT dua dekade yang lalu, Mei 1998, berbagai elemen bangsa yang dimotori mahasiswa bergerak menuntut perubahan tatanan pemerintahan negeri ini. Mereka menyerukan reformasi dengan agenda utama yakni menurunkan Presiden Suharto dari jabatannya. Dinamika gerakan mahasiswa kala itu tak hanya didominasi Jakarta.

Tanggal 5 Mei 1998, dalam waktu yang hampir bersamaan, mahasiswa di Yogyakarta dan Medan mulai bergerak. Mahasiswa dan masyarakat yang bersatu dalam gelombang reformasi harus menghadapi kekuatan aparat keamanan. Akibatnya bentrokan fisik tak lagi terelakkan.

Bentrokan demi bentrokan yang terus terjadi dimanfaatkan oknum-oknum yang mengambil kesempatan. Kerusuhan pun meletus di Yogyakarta hingga puncaknya terjadi pada 8 Mei 1998. Saat itu, usai salat Jumat, sekitar 5000-an mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan demonstrasi besar di Bundaran Kampus UGM. Demonstrasi berlangsung tertib. Mahasiswa menyampaikan protes atas kondisi perekonomian yang semakin terpuruk dan merosotnya kepercayaan publik pada pemerintah.

Tak hanya mahasiswa UGM, mahasiswa di beberapa kampus lain di kota pelajar ini juga bergerak. Antara lain dari Universitas Sanata Dharma (USD) dan IAIN (sekarang Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga/UIN Suka). Jalan Gejayan berubah mencekam dan menjadi lautan demonstran. Bentrokan yang terjadi akhirnya memakan korban. Moses Gatotkaca, mahasiswa Fakultas MIPA (sekarang Fakultas Sains dan Teknologi) USD ditemukan tewas bersimbah darah di ruas jalan sebelah selatan Kampus Mrican USD. Nama Moses Gatotkaca kemudian diabadikan sebagai nama jalan tersebut.

Dinamika Sejarah

Gerakan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah panjang. Lahirnya pergerakan nasional dan Sumpah Pemuda dipelopori mahasiswa yang notabene kaum cendekiawan. Di era kemerdekaan, gerakan mahasiswa melalui Angkatan 66 tampil mendukung lahirnya Orde Baru. Kemesraan mahasiswa dengan pemerintah Orde Baru tak lama berakhir akibat rusuh politik Malari 1974. Rezim penguasa sadar akan potensi gerakan mahasiswa yang dapat menggoyang kekuasaan, sehingga ditempuh langkahlangkah deradikalisasi. Akibatnya intensitas gerakan mahasiswa menurun. Aksi mahasiswa sempat muncul kembali tahun 1980-an dengan mengusung isu korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pemerintah kemudian menyikapinya dengan mengeluarkan peraturan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Sejak itu semua aktivitas mahasiswa berada di bawah kontrol ketat pemerintah melalui rektor. Dalam perkembangannya, gerakan mahasiswa sebenarnya diam-diam tetap tumbuh walaupun dalam kelompok-kelompok kecil. Perjuangan mahasiswa kembali meledak tatkala Reformasi 1998. Gelombangnya persis seperti yang terjadi pada tahun 1966.

Common Sense

Kini setelah dua dekade Reformasi, gerakan mahasiswa dirasa mulai surut. Entah karena proses akademik yang semakin menuntut jam terbang tinggi atau ada pergeseran pola perilaku mahasiswa yang menjadi cenderung apatis. Kemapanan ekonomi dan kemajuan teknologi informasi diduga juga menjadi penyebab meredupnya gerakan mahasiswa. Makna idealisme perjuangan mahasiswa akhirnya mengalami degradasi dan disorientasi. Tetapi ini tak berarti kepekaan mahasiswa terhadap berbagai persoalan bangsa sudah lenyap.

Sinyalemen positif kembalinya gerakan mahasiswa bukan berarti turunnya mahasiswa dengan menggelar demo jalanan. Apalagi sampai bertindak anarkis seperti yang terjadi saat aksi Hari Buruh beberapa waktu lalu. Mestinya berbagai aksi kreatif, pertunjukan seni budaya, karya ilmiah dan gagasan inovatif, hingga program pengabdian pada masyarakat dapat menjadi saluran kekritisan dan kepedulian mahasiswa. Kepekaan mahasiswa dalam menyikapi berbagai kebijakan politis maupun kondisi sosial yang dirasa kurang pas harus ditumbuhkan dengan cara-cara konstruktif.

Beberapa pengamat menilai mahasiswa masih kurang tajam dalam mengelola isu-isu bangsa. Tentu mahasiswa harus mampu membangun common sense terhadap berbagai persoalan agar dapat memberi rekomendasi yang signifikan pada pemerintah demi kemajuan bangsa. Maka mahasiswa butuh ruang-ruang diskusi untuk menggodok suatu permasalahan sampai terbangun gerak bersama. Semangat Reformasi pun juga pengorbanan Moses Gatotkaca harus terus dihidupi mahasiswa dalam konteks kekinian dengan tetap santun dan elegan!

(Hendra Kurniawan MPd. Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 8 Mei 2018)