KOLOM Editor : Ivan Aditya Selasa, 08 Mei 2018 / 23:53 WIB

Isi Piring Sehat

PRESIDEN Joko Widodo bercita-cita besar tentang ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dari pemenuhan gizi anak bangsa. Kemudian Menko PMK pernah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (GERMAS SAPA) di Taman Mini Indonesia Indah. Apa yang harus dilakukan?

Menurut Profil Kesehatan Indonesia yang terbit Juli 2017, persentase balita gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Selain itu, persentase balita sangat pendek sebesar 8,6% dan pendek sebesar 19,0%, dengan target kurang dari 20%. Provinsi dengan persentase balita pendek dan sangat pendek terbesar adalah Sulawesi Barat (39,7%) dan hanya Provinsi Sumatera Selatan dan Bali yang kurang dari 20%. Persentase balita status gizi lebih adalah 1,5% dan tertinggi di DKI Jakarta dengan 4,4%.

Hal itu membuktikan bahwa konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ yang menjadi acuan pola makan masyarakat Indonesia, perlu dievaluasi. Pada Forum Pangan Asia Pasifik di Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017, Kementerian Kesehatan mulai memperkenalkan slogan 'Isi Piringku'. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono menjelaskan, konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu gizi saat ini. Selain itu, juga tidak mengatur porsi, sehingga kini Indonesia dihadapkan dengan beban ganda gizi, yaitu masalah obesitas di samping malnutrisi.

Dalam gerakan 'Isi Piringku' diterapkan porsi untuk setiap bahan pangan. Makan bukan untuk sekadar menghasilkan kenyang, tetapi perlu memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh. Piring makan sebaiknya diisi dengan asupan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral secara seimbang. Hal ini dikarenakan tidak ada satupun jenis makanan, yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Dalam satu porsi sajian, sayur dan buah seharusnya memiliki porsi paling banyak, yakni separuh bagian piring. Sementara itu, separuh bagian piring lainnya dapat diisi dengan makanan pokok, yang mengandung karbohidrat, dan lauk yang banyak mengandung protein, dengan porsi protein harus lebih banyak dibanding karbohidrat. Protein sangat penting karena peranannya sebagai sumber energi, zat pembangun tubuh, bahkan berfungsi juga dalam mekanisme pertahanan tubuh.

Saat ini dibutuhkan perubahan anggapan masyarakat, untuk tidak selalu berpikir daging merah sebagai sumber protein. Indonesia merupakan negara kelautan yang sangat kaya akan aneka ragam jenis ikan. Perairan yang sedemikian luas tentu mengandung kekayaan protein hewani yang tinggi sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga ikan layak dijadikan sebagai sumber protein utama bagi keluarga Indonesia.

Secara umum komposisi protein hewani pada ikan, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan protein hewani lainnya. Namun, ikan lebih menyehatkan karena lemak yang terkandung di dalam ikan bukan merupakan lemak jenuh. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tidak jenuh (omega, yodium, selenium, fluorida, zat besi, magnesium, zink, taurin, serta coenzyme Q10). Selain itu, kandungan omega 3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani lainnya, seperti daging sapi dan ayam.

Dalam setiap sajian, kita juga wajib memperhatikan kandungan gula, garam dan lemak. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan perorang perhari adalah: Gula tidak lebih dari 50 gr (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2.000 mg natrium/sodium atau 5 gr (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gr (5 sendok makan minyak). Untuk memudahkan mengingat rumusnya adalah G4-G1-L5-S.

Gula merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia. Namun, jika berlebihan, gula dapat menyebabkan obesitas dan memicu diabetes tipe 2. Di dalam buah segar sudah terdapat gula alami, sehingga sebenarnya tambahan gula tidak dibutuhkan. Garam dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk mengatur kandungan air dalam tubuh. Jika berlebihan, garam dapat menyebabkan hipertensi hingga stroke. Sedangkan lemak, juga diperlukan dalam tubuh sebagai cadangan energi. Lemak berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker. Lemak dapat berbentuk padat dan cair (minyak), sehingga lemak banyak ditemui pada makanan yang digoreng.

Pada Hari Kegemukan Sedunia (World Obesity Day) Rabu, 11 Oktober 2017 lalu, jurnal bergengsi ‘The Lancet’ yang terbit di London, memaparkan bahwa jumlah anak gemuk atau mengalami obesitas di seluruh dunia, telah meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Jika tren saat ini berlanjut, akan lebih banyak anak mengalami obesitas daripada berat badan sedang atau sangat kurus pada tahun 2022. Pencanangan GERMAS SAPA dan ‘Isi Piringku’, adalah upaya kita mencegah obesitas dan mengatasi gizi buruk, juga pada anak di sekitar kita. Apakah kita sudah bijak mengisi piring anak kita?

(Fx Wikan Indrarto. Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 8 Mei 2018)