Ekonomi Editor : Agung Purwandono Rabu, 09 Mei 2018 / 08:13 WIB

Berkat Jasa Pijat, Bowo Beli Motor dan Laptop Sendiri

BERKAT jasa bisnis pijat, Tri Wibowo atau akrab dipanggil Bowo bisa membeli motor dan laptop serta membayar uang kuliah sendiri. Sebagi tunanetra, ia tidak ingin merepotkan orang lain.

Bowo secara khusus membuat rincian tarif jasa pijatnya. Pijat di tempat dikenakan tarif Rp 40 ribu. Jika pelanggan bersedia antar jemput maka tarif menjadi Rp 55 ribu. Namun jika pelanggan meminta Bowo datang ke rumah dan tidak diantar jemput, tarif dikenakan Rp 75 ribu. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Keuntungan dari setiap tarif yang ia kenakan tidak hanya untuk dia sendiri. Contohnya, saat Bowo tidak diantar jemput maka dirinya harus menyewa tukang ojek untuk ke tempat pelanggannya. Sehingga ia membagi tarif Rp 75 ribu yang diterimanya dengan tukang ojek.

Dari tabungannya Bowo bisa membeli motor. Tentu saja motor tersebut tidak ia gunakan sendiri, namun digunakan oleh pendamping atau oleh teman-temannya untuk membonceng dia.

Baca Sebelumnya : Tunanetra, Tak Surutkan Bowo Berwirausaha

Bowo juga aktif melakukan kegiatan sosial. Dirinya ingin berbagi dengan masyarakat sekitarnya dengan apa yang ia punya. Meski sederhana ia ingin orang-orang merasakan sesuatu yang ia berikan. 

Bowo meneruskan program yang dulu ia gagas bersama teman-temannya saat Kuliah Kerja Nyata di daerah Wonokerto Turi. Diantaranya, melatih masyarakat membuat sabun cuci piring, kebun gizi, dan taman bacaan.

“Meski saya difabel saya tidak ingin merepotkan orang lain, dan saya ingin membuktikan saya juga bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak,” tuturnya.

Saat ini bisnisnya masih terus ia kembangkan. Bahkan ia juga berbisnis madu dan makanan kecil. Ia tidak kehabisan ide untuk terus mencoba membangun usaha agar hidup mandiri. Namun selama ini semua usahanya tak lepas dari hambatan.

Kesulitan Cari Partner Bisnis

Mahasiswa asal Kendal, Jawa Tengah ini mengaku, ia kesulitan mencari partner atau staff untuk membangun bisnis. Bowo merasa perlu memiliki partner bisnis yang loyal untuk membantunya mengembangkan bisni. 

Ia mulai merasa kerepotan menangani pelanggannya yang selalu ada. Sebelumnya sudah ada beberapa teman yang menjadi partner, namun tidak bertahan lama. Akhirnya Bowo menjalankan bisnisnya sendiri. 

“Saya itu susahnya cari partner, kalau mau ajak teman-teman sendiri kebanyakan mereka belum percaya dengan kemampuan saya. Kalau toh ada mereka masih sekedar memberikan support melalui kata-kata saja,” ungkap Bowo.

Sebagai mahasiswa difabel, Bowo berharap pihak kampus lebih memperhatikan kebutuhan difabel terutama pendamping bagi para difabel yang perlu ditambah. Pendamping sangat dibutuhkan untuk membantu kegiatan kuliah sehari-hari para difabel paling tidak satu program studi memiliki satu pendamping. 

Selain itu, sebagai seseorang yang sedang merintis bisnis, ia mengharapkan para investor mau menanamkan modal kpada bisnis difabel. Menurut Bowo orang-orang difabel lebih membutuhkan dari pada non difabel karena susah mencari modal sendiri. (Fatimah Arum Utari/KRAcademy)