Ekonomi Editor : Agung Purwandono Rabu, 09 Mei 2018 / 03:03 WIB

Tunanetra, Tak Surutkan Bowo Berwirausaha

TEKAD untuk hidup mandiri meski dalam keterbatasan membuat Tri Wibowo tak pernah menyerah. Meski tunanetra, mahasiwa angkatan 2014, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini terus memutar otaknya untuk berwirausaha. Sudah sejak SMA, Bowo sapaan akrabnya, suka berbisnis baik barang maupun jasa.

“Saya tidak ingin bergantung pada orang lain meski saya difabel. Selain itu, saya juga tidak ingin mensia-siakan masa muda saya. Saya tidak mau menjadi pengangguran sarjana,” kata Bowo dengan ekspresi penuh semangat di wajahnya. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Kembangkan Bisnis Pijat

Berjualan minum dan makanan sempat ia coba, hingga akhirnya menekuni bisnis pijat. Awalnya, mahasiswa semester akhir ini tak menyangka dirinya memiliki keahlian dalam memijat. Sambil tertawa kecil Bowo menceritakan kejadian tak sengaja yang membuat dirinya terkenal sebagai tukang pijat.

"Suatu ketika saya menolong seseorang yang terkilir kakinya saat bermain bola. Orang tersebut meminta saya memijat kakinya, karena beranggapan bahwa tunanetra pasti pintar memijat," kata Bowo mengenang peristiwa saat dirinya masih SMA tersebut. Pada saat itu, Bowo sendiri merasa tidak yakin dirinya bisa memijat. 

Penuh keraguan Bowo akhirnya memijat kaki yang terkilir tersebut, dan ternyata pulih kembali. Dari sini pria yang kini berusia 24 tahun ini menyadari bahwa dirinya memang memiliki bakat memijat keturunan dari simbah buyut dan ibunya. 

Kini, sudah banyak pelanggan setia Bowo yang mampir ke tempat pijat yang ia namai Massage Pijat (Masjid) Nusantara Sumber Waras miliknya. Tak jarang ia juga mendapatkan pelanggan tokoh-tokoh yang cocok dengan pijatan Bowo.

Diawali dari Kamar Kost

Pada awal merintis bisnis hingga saat ini, ia sendiri melayani pelanggannya di kamar kosnya. Ia mengubah kamar kosnya menjadi tempat serba guna. 

Sebagai mahasiswa, ia jadikan kos sebagai rumahnya untuk tidur, makan, belajar dan kegiatan sehari-hari lainnya. Ketika Bowo sebagai tukang pijat, ia mengubah kamarnya menjadi tempat pijat lengkap dengan aroma terapi dan instrument musik yang menenangkan. Bowo bisa menghabiskan waktu tiga jam untuk melayani pelanggannya. 

Menyesuaikan dengan jadwalnya sebagai mahasiswa, ia tak bisa menerima semua orderan yang masuk, sehingga sulit bagi Bowo untuk menentukan jumlah pelanggannya selama ini. Namun ia mengaku setiap hari pasti ada. Bowo pernah memiliki pengalaman menerima hampir 10 orderan dalam sehari hingga dirinya kelelahan. (Fatimah Arum Utari)

Kisah Selanjutnya : Berkat Jasa Pijat, Bowo Bisa Beli Motor dan Laptop Sendiri

Baca Juga : 

Andi Arsana Tinggalkan Pekerjaan Mapan Demi Mengejar Impian Menjadi Dosen

Andi Arsana, Dosen Favorit UGM yang Sempat Punya IP 1,2