Membiasakan HOTS

UJIAN Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA dan SMP telah selesai digelar. Ada dua hal menarik yang bisa dievaluasi dari hajatan tersebut, salah satu yang mengemuka adalah isi soal. Soal bercita-rasa HOTS menjadi perbincangan menarik. Laman dunia maya banyak dibanjiri keluhan sulitnya soal HOTS. Posko pengaduan UN yang dihimpun Federasi Serikat Guru Indonesia juga mengungkapkan hal serupa. Mendikbud, Muhadjir Effendy, pun harus menyampaikan permohonan maaf atas situasi ini.

Bermula dari Samuel Bloom menyusun kerangka kategorisasi tujuan pendidikan The Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goal, Handbook I: Cognitive Domain (1956); wajah dunia pendidikan pun berubah. Proses kognitif ditaksonkan menjadi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Anderson dan Krathwohl (2001) menyempurnakan handbook tersebut dengan menurunkan level mengevaluasi dan menempatkan kemampuan mengkreasi pada level tertinggi.

Miskonsepsi

Kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) didefinisikan sebagai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan nilai (values) dalam membuat penalaran dan refleksi dalam memecahkan suatu masalah, mengambil keputusan, dan mampu menciptakan sesuatu yang bersifat inovatif. Secara singkat, HOTS menempati tiga level tertinggi dari taksonomi Bloom, yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. HOTS melatih siswa berpikir lebih tinggi daripada menghafalkan fakta, menerapkan rumus dan prosedur. Siswa membuat keterkaitan antarfakta, mengkategorikannya, memanipulasinya, menempatkannya pada konteks, situasi atau cara baru, dan menerapkannya guna mencari solusi baru.

Dalam mendefinisikan HOTS sering kali terjadi miskonsepsi. Yang sering kali muncul selama ini adalah penggunaan kata kerja bantu (wording). Banyak yang beranggapan bahwa jika soal telah menggunakan kata kerja bantu, pasti soal tersebut sudah HOTS. Sebagai contoh, ‘Analisislah daerah mana saja yang terdampak peristiwa puting beliung di Yogyakarta (Selasa, 24/4/2018)?” Soal ini seolah-olah HOTS karena kontekstual, fenomena fisika puting beliung yang nyata dan belum lama terjadi. Permasalahan muncul saat penggunaan kata ‘analisislah” dianggap mewakili HOTS level analisis. Padahal dari soal tersebut, siswa tidak pada ranah berpikir menganalisis. Bisa saja siswa membaca koran atau berita melalui media sosial, menuliskan kembali tempat-tempat yang tertulis dalam media tersebut. Lain jika pertanyaannya adalah ‘Analisislah mengapa puting beliung dapat terjadi di Yogyakarta (Selasa, 24/4/2018), terutama di daerah Sorowajan?” Dari soal ini siswa diajak untuk melihat berbagai fakta yang terjadi saat itu, misalnya mencari data lokasi, musim, suhu, tekanan udara, serta berbagai fakta fisika lainnya. Dari fakta-fakta tersebut siswa menghubungkannya dengan konsep terjadinya puting beliung sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan.

Salah satu ciri soal HOTS adalah adanya proses pikir berjenjang. Sebagai contoh, kita terbiasa dan sangat hafal dengan penghitungan 3 + 4 = 7. Mengapa kita tidak mencoba bertanya, ‘3 + 4 = 8 adalah penghitungan yang salah. Mengapa?”. Contoh lain, ‘Jelaskan salah satu daur biogeokimia, yaitu daur hidrologi dimulai dari kondensasi!” Bandingkan dengan, ‘Orang purba mengonsumsi air yang sama dengan air yang kita minum saat ini. Jelaskan pendapat Anda terhadap pernyataan tersebut menggunakan konsep siklus air!” Kedua soal tersebut sama-sama mengukur pemahaman tentang daur air. Meskipun di soal pertama tampak ilmiah karena menggunakan istilah sulit, tapi belum masuk HOTS. Di soal kedua meski tampak sederhana, tapi anak diajak melihat inti dari konsep siklus air di bumi ini. Dalam soal Bahasa Indonesia, ‘Dalam novel Dilan: Dia adalah Dilanku (1990) karya Pidi Baiq, siapakah tokoh Milea itu?” Bandingkan dengan, ‘Dalam konteks modern saat ini, orang dengan karakter seperti apakah yang sama dengan karakter Milea?”. Soal ini tidak hanya mengajak siswa menghafal novel, tapi juga melihat realita kekinian berdasarkan perwatakan tokoh novel.

Akhirnya, soal HOTS bukanlah soal yang sulit manakala pembelajaran tidak lagi dilakukan secara tradisional, apalagi dengan ‘memasung” tangan siswa di atas meja dan mendengar ceramah guru. Membiasakan HOTS kepada siswa tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan waktu dan strategi. Guru tidak dapat menagih siswa dengan asesmen tipe HOTS tanpa melakukan pembelajaran HOTS terlebih dulu.

(R Arifin Nugroho. Guru SMA Kolese De Britto. Penulis Buku HOTS. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 7 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda