Desainer Nita Azhar 'Launching' Soga Kultura Boutiqe Gallery

Pementasan Sinjang Drupadi saat pembukaan Soga Kultura

YOGYA, KRJOGJA.com - Desainer batik asal Yogyakarta, Nita Azhar menggelar Grand Launching Soga Kultura Boutiqe Gallery, pada hari Kamis (3/5/2018) pukul 19.00 di Bale Raos Keraton Yogyakarta.Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara besar bertajuk 'Sinjang Drupadi' yang akan digelar pada akhir tahun ini di Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah.

Mengapa Sinjang atau Jarik dalam Bahasa Jawa? Nita panggilan akrabnya itu mengungkapkan Sinjang (jarik) itu sudah ada dan dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit yang awalnya hanya digunakan oleh kalangan kerajaan.

Namun pada akhirnya berkembang di masyarakat luas dan dikenakan sebagai busana maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

Dari lahir lanjut dia, Sinjang digunakan untuk alas melahirkan, untuk menggendong dan membedong bayi, digunakan sebagi selimut, hingga ketika menjadi dewasa Sinjang dipakai sebagai busana pengantin khususnya masyarakat Jawa. 

"Sampai pada akhirnya Sinjang dikenakan untuk menutup hidup manusia, di mana orang meninggal Sinjang disiapkan untuk menutup jenazah ketika dimandikan, menjadi alas jenazah setelah dimandikan dan untuk menutup jenazah yang siap dimakamkan," katanya.

Ia memaparkan saat ini dalam ranah busana masyarakat modern Indonesia, sinjang tidak saja dalam busana sehari-hari saja. Namun terus berkembang sebagai busana adat yang sangat beragam jenisn dan mempunyai keunikan, keindahan serta bernilai estetik tinggi.

Menurutnya pementasan kecil yang merupakan teaser dari pertunjukan Fashion Teatrikal berjudul “Sinjang Drupadi" karyanya. Acara ini juga dikolaborasikan dengan koreografi tari, musik, seni instalasi dan videografi yang bercerita tentang kisah tragis Drupadi dalam perjuangannya menjaga kehormatan keluarga Pandawa melawan Kurawa melalui kain panjang yang dikenakannya. 

Kisah Mahabarata yang menjadi awal dari perang Bharatayuda ini menyimpulkan, bahwa Sinjang bukan hanya sekedar kain panjang sebagai penutup tubuh semata tetapi juga mengandung narasi tentang perjuangan perempuan dalam menjaga kehormatannya dan martabat bangsa.  

"Dengan Sinjang, saya berusaha untuk membangkitkan kembali spirit dan jati diri bangsa Indonesia dalam berbusana," pungkas Nita.

 

Tulis Komentar Anda