Hiburan Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 30 April 2018 / 01:50 WIB

'Cerita Anak' Papermoon Membuat Saya Menangis!

PAPERMOON Puppet Theatre kembali membius penonton melalui pertunjukannya. Selama 3 hari, kelompok teater asal Yogyakarta ini mengajak anak menyelami cerita melalui pertunjukan 'Cerita Anak'.

Aslinya Hanya untuk Anak Usia 2-8 Tahun dan Orang tuanya

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Jadi Papermoon Puppet Theatre kali bekerjasama dengan Polyglot Theatre (Australia). Pertunjukan yang berlangsung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja 27-29 April 2018 sebenarnya diperuntukan bagi anak usia 2-8 tahun dan orangtuanya yang akan menjadi penumpang.

Sejak keberadaan pementasan ini diumumkan, jenis penonton sudah dibagi menjadi dua macam. Penonton pertama diberi julukan ‘penumpang’. 

Mereka adalah sekumpulan terbatas sepasang anak dan salah satu orang tuanya yang akan diberi kesempatan untuk berlayar selama pementasan. Penonton kedua, ya, penonton biasa. Yaitu, kami yang memang datang dari berbagai macam kalangan. 

Pintu masuk dua macam penonton ini dibuat berbeda. Para ‘penumpang’ dibariskan terlebih dahulu di halaman padepokan. Oleh pemandu, mereka diberikan penjelasan yang bagi kami yang mendengarkannya, terdengar sangat menyenangkan sekaligus mengherankan.

"Nanti, saat masuk ke pementasan, kita akan berlayar bersama di kapal. Kita akan berpetualang bersama dengan teman-teman lainnya. Karena itu, jangan lupa alas kakinya dilepas, ya!” seru si pemandu. 

Sementara para penonton biasa hanya bisa menyaksikan sambil mengantre menuju pintu masuk, segerombolan anak dan orang tua itu dipandu entah ke mana.

Ketika tahu bahwa pementasan ini adalah hasil karya Papermoon Puppet Theatre, yang terbayang adalah pementasan wayang boneka seperti di AADC 2. Rupanya, ekspektasi ini melenceng dari kenyataan. 

Tempat pertunjukan bukanlah studio yang dibuat megah. Bentuknya persegi dan kursi penonton berada di tiga sisi panggung pementasan. Ketika memasuki studio, kami disuguhi tampilan sebuah properti kosong menyerupai kapal di balik tirai putih tembus pandang. 

Setelah menunggu beberapa saat, seorang pemandu menyambut kami dengan sumringah. Namanya Mas Beni. Dalam perkenalannya, ia mengatakan bahwa ia adalah bagian dari kru Papermoon Puppet Theatre. Secara singkat, Mas Beni menceritakan kami tentang Teater Cerita Anak.

“Teater Cerita Anak ini merupakan kerjasama antara Papermoon Puppet Theatre dan Polyglot Theatre dari Australia. Teater ini diadakan untuk usia 2 sampai 8 tahun bersama orangtua. Pertama kali, teater ini dipentaskan di Melbourne pada 2017. Yang berbeda dari pementasan sebelumnya, kali ini kami mengizinkan ada penonton biasa. Dulu, hanya penumpang saja yang bisa datang,” begitu kira-kira penjelasan Mas Beni kepada kami.

Naluri Anak yang Begitu Murni

Selepas Mas Beni meninggalkan kami, pertunjukan dimulai. Tirai putih transparan yang membatasi kami dari panggung tak kunjung disibak. 

instagram/papermoonpuppet

Sementara itu, kami mulai mendapati para penumpang muncul  satu per satu mendekati properti kapal. Di situlah saya mulai menyadari apa yang akan saya dapati selama pertunjukan berlangsung hingga selesai kelak. 

Saya menyaksikan naluri anak-anak yang begitu murni bermain-main tanpa terlalu diarahkan.  Cerita yang mengalir mengisahkan tentang perjalanan para penumpang kapal di lautan. 

Kalau kata Maria Tri Sulistyani selaku co-artistic director Papermoon Puppet Theater, kisah di teater ini diambil dari perjalanan seorang anak dari Sri Lanka yang mencari suaka di Australia. 

Mulai dari awal berlayar, diterjang badai, hingga sempat tenggelam di laut dalam, teater ini menyajikan perjalanan yang cukup menantang. Dari adegan satu ke adegan lain, saya mendapati anak-anak begitu ceria mengikuti berjalannya arus pementasan. Tanpa diarahkan, mereka mengikuti bagaimana adegan dibuat. 

Ketika kapal diceritakan tenggelam, anak-anak bersama orang tuanya pun turut mengikuti kepanikan yang bagi mereka adalah petualangan. Begitu pula ketika mereka diberikan pancing-pancing kecil untuk memancing ikan di lautan.

Selama pementasan, kami tidak mendengar ada dialog disuguhkan. Kalau dipikir, keseluruhan pementasan hanya berisi orang tua dan anak-anak yang keasyikan bermain mengikuti adegan. Tapi, di situlah saya merasa seperti diperkenalkan kembali dengan jati diri kekanakan saya.

Dengan ilustrasi yang ditampilkan di tirai putih transparan, kami seperti menerawang pada jati diri anak-anak kami. Apalagi, ketika kami ditunjukkan betapa anak-anak dapat dengan kreatifnya memainkan properti yang ada tanpa merusak adegan yang direncanakan. 

Bukan hanya anak-anaknya saja. Kami juga menonton anak-anak tersebut berinteraksi dengan orang tua mereka yang juga seperti kembali ke masa kanak-kanak. Setiap pasang orang tua dan anak tampak ceria bermain bersama di panggung tersebut.

Barangkali, mereka bahkan tidak menyaksikan kami yang menonton di balik tirai. Mereka terlalu asyik merespon berbagai macam dinamika di dalam tirai sana.

Hingga akhirnya, kami menyaksikan kapal yang mereka tumpangi tiba di daratan. Kru kapal tampak sibuk membuat jembatan bagi para penumpang untuk turun ke dermaga. 

Masing-masing penumpang turun dengan senyum di wajah mereka, kru kapal pun harus kembali berlayar dan pertunjukan sampai pada akhirnya. Percaya atau tidak, saya meninggalkan studio dengan mata berkaca-kaca.

Tidak bisa dipungkiri lagi, Cerita Anak ini berhasil menyentuh hati kami para penonton dengan cara spesialnya sendiri. Ada penonton yang meninggalkan studio dengan wajah gembira, ada pula yang terlalu sibuk menyeka air matanya.

Padahal, kesedihan dalam teater tersebut tidak ditampakkan secara gamblang. Namun, siapa yang dapat menyangka bahwa kami akan dipaksa menyaksikan kemurnian naluri anak-anak? 

Teater Cerita Anak ini hadir bukan sebagai satu bagian tunggal. Teater ini dipentaskan sebagai bagian dari pagelaran seni ArtJog 2018. Tahun ini, pagelaran seni yang memang sudah sering ditunggu-tunggu ini hadir dengan tajuk Enlightenment dan akan diadakan pada 4 Mei hingga 4 Juni 2018. (Rahina Dyah Adani)