KREASI DISABILITAS TAMPIL MEMUKAU

A Night Fashion At The Museum, Berkelas dan Unik

Salah satu koleksi kebaya yang diperagakan di A Night Fashion At The Museum. (Foto:Abdul Alim)

SEBANYAK 15 kebaya koleksi Griya Ageman, Sleman, Yogyakarta seri Sangkara dan Katresnan tampil memukau di peragaan busana Kartini Millenials bertajuk ‘A Night Fashion at The Museum’ di De Tjolomadoe, Sabtu (29/4/2018) malam. Kreasi para disabilitas ini diapresiasi para pengunjung dan pejabat BUMN di acara tersebut.

“15 karya ini kumpulan koleksi tahun 2018. Selain dari Sangkara dan Katresnas series, juga ada beberapa desain baru. Semuanya kebaya feminim. Itu mengapa peragaan ini bertajuk Kartini Millenials,” kata Desainer Griya Ageman, Linda Susanti kepada KRJOGJA.com.

Ia sengaja menonjolkan kebaya eklusif atasan brokat lace, bawahan jarik motif mewah serta aksesori selendang. Modifikasi pada pakem kebaya memberikan pandangan baru berbusana tradisional itu. Pada koleksi kali ini, Linda seakan melukis aneka karakter kebaya Jawa di koleksinya. Dibutuhkan riset tidak sederhana mewujudkan 15 kebaya premium tersebut.

“Macam-macam jelajah yang kami lakukan. Seperti ke Prambanan. Griya Ageman memadukannya dengan seni lukis. Topingnya pada penonjolan budaya Jawa. Untuk coraknya bebas,” katanya.

Mayoritas koleksi busananya di peragaan Kartini Millenials bernuansa gelap. Hal itu tak lepas dari karakter elegan kebaya. Meski tidak bisa disebut busana tertutup, namun bukan vulgar. Ia tetap menjaga batasan berbalut sisi feminim dan mengangkat kearifan lokal. Diyakininya, pemakaian kebaya tidak ketinggalan zaman karena tetap dipakai di berbagai acara formal seperti pesta pernikahan dan wisuda.

Peragaan busana di bekas pabrik gula (PG) Colomadu itu dihadiri Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno serta jajarannya. Tak hanya memeragakan kebaya koleksinya, juga diperagakan kolaborasinya dengan Anne Avantie dan Sarinah. Uniknya, para peraga merupakan istri para dan keluarga para pejabat BUMN yang hadir di acara tersebut.

Menurutnya, satu hal membanggakan dari koleksi Griya Ageman, yakni dibuat pegawai Griya Ageman yang sebagian menyandang disabilitas.

“Lima pegawai kami tuna wicara dan rungu. Ada yang menjahit, memasang payyet dan menempel motif. Mereka memiliki potensi yang kebanyakan tidak terlihat. Ajang ini memberi kesempatan pengusaha dan pejabat melihatnya sebagai kalangan kreatif yang tak kalah dari manusia normal,” katanya. (Lim)

Tulis Komentar Anda