Yuk.. Lihat Geliat Kopi 'Tenanan' di Purworejo

Barista meracik Kopi Seplawan dengan cara seduh. (Foto: Jarot S)

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Minum kopi menjadi tren masyarakat Indonesia. Geliat itu pun menular hingga Kabupaten Purworejo. Beberapa kafe kopi tumbuh kota sisi barat Menoreh itu.

Pada awalnya, kafe di Purworejo kebanyakan menyediakan kopi saset atau kopi hitam biasa. "Belum ada warung kopi yang mngikuti tren ngopi serius, masih sebatas memenuhi permintaan kopi susu, kopi hitam, bahkan kopi saset," ujar produsen Kopi Seplawan, Toto Sugiharto, kepada KRJOGJA.com, Jumat (20/4/2018).

Menurutnya, ketika itu kopi serius atau minuman yang diolah langsung dari biji dan dibuat dalam dengan cara diseduh atau menggunakan mesin, belum masuk Purworejo. Mahalnya mesin dan perangkat mengolah kopi 'tenanan' ini menjadi kendala kafe di Purworejo.

Apalagi harga kopi hasil proses khusus itu dinilai lebih mahal. Hanya kalangan tertentu yang mampu membeli kopi olahan itu.

Maka kopi tenanan itu belum berkembang kala itu. "Saya dulu pernah bikin acara Kopi Kere di rumah Donorejo Kaligesing. Tidak ada satupun pegiat kopi Purworejo yang datang, kebanyakan berasal dari Yogyakarta," katanya.

Padahal, katanya, ketika itu nama barista seperti Dini NU, Doni Catur, Matahari Timur dan Pepeng Klinik Kopi hadir. Bahkan orang sekelas Budiono Darsono yang saat itu adalah pemilik Detik.com dan musisi Idang Rasyidi juga datang.

Meski belum berhasil mengangkat kopi lokal, namun Toto menilai kegiatan itu bermanfaat positif untuk Purworejo. "Saya jadi punya banyak teman produsen, barista dan penikmat kopi di berbagai daerah," terangnya.

Jalan itulah yang ditempuh Toto untuk membranding kopi Purworejo. Tahun berjalan dan geliat kopi di kota besar sampai juga di Purworejo.

Toto mulai mengenalkan kopi produksi petani di Desa Donorejo. "Saya kenalkan ke beberapa teman penikmat kopi, hasilnya kopi Purworejo layak. Mereka bilang rasanya enak," tuturnya.

Ia mulai membina petani kopi di Donorejo agar bertani sesuai standar budidaya. Toto pun mulai berani membranding kopi lokal dengan nama Kopi Seplawan. Pelan-pelan Toto menawarkan produknya kepada penikmat kopi dan pemilik kafe di Purworejo.

Lain lagi cerita Johan, penikmat kopi yang juga mantan karyawan salah satu coffee shop di Purworejo. Ia menilai geliat kopi serius di Purworejo belumnya masif. Kafe kopi memang mulai menjamur, namun kata Johan, penikmat kopi hanya itu-itu saja.

Beberapa tahun terakhir, katanya, mulai ada pergeseran pola konsumsi dengan mulai munculnya komunitas penikmat kopi di Purworejo. Namun Johan memperkirakan jumlahnya tidak begitu banyak. "Saya berani berkata demikian karena pernah bekerja di coffee shop, setelah keluar juga beberapa kali ngopi, jadi hapal," ucapnya.

Tidak masifnya geliat budaya ngopi serius seperti di Yogyakarta atau Magelang, kata Johan, dipengaruhi kebiasaan dan kemampuan ekonomi. Sebagian anak muda masih menganggap mahal harga belasan ribu rupiah untuk secangkir kopi. Kebanyakan membandingkan harga kopi 'tenanan' dengan membandingkan kopi racikan kafe dengan kopi kaki lima atau warung makan.

"Harga di warung kaki lima tentu jauh di bawah kopi yang diolah serius. Tapi namanya kebiasaan, di Purworejo namanya ngopi ya kopi tubruk atau saset," terangnya.

Selain itu, sebagian anak muda datang ke kafe untuk memanfaatkan fasilitas internet atau wifi gratis. Kalau tidak menyediakan sarana itu, lanjutnya, bisa dipastikan kafe akan sepi. Mereka bisa betah berlama-lama di kafe berkoneksi internet untuk bermedia sosial atau main game online.

Berbeda dengan sektor hilir, sektor hulu justru bergeliat lebih kencang. Selain cerita usaha Toto Sugiharto yang gencar mengenalkan Kopi Seplawan, beberapa pengusaha kopi Yogyakarta juga mulai melebarkan sayap ke Purworejo.

Mereka tidak sekedar mengejar keuntungan semata, namun juga meningkatkan kualitas petani. "Kami membantu petani di Kaligesing, mereka diajari budidaya kopi yang benar, sehingga yang dihasilkan berkualitas premium," ucap pengusaha kopi, Arizal Adi Pratama.
 
Petani mau menjalankan teori budidaya yang benar dengan jaminan hasil panen dibeli dengan harga layak. Selain itu, beberapa barista Yogyakarta juga mengajari pemuda Kaligesing menjadi penyeduh kopi.

"Kami buat kelas seduh sebulan sekali di Donorejo Kaligesing. Barista kafe didatangkan melatih mereka," tambah pegiat komunitas Barista Koffie Lovers Yogyakarta (BKVR) itu.(Jas)

Tulis Komentar Anda