Gaya Hidup Agregasi    Sabtu, 21 April 2018 / 22:39 WIB

Catat! Ini Pemahaman Salah Kaprah Soal Pengobatan Diabetes

JUMLAH penyandang diabetes di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Berdasarkan data yang ada, saat ini diabetesi (pasien diabetes) jumlahnya sudah mencapai 10,3 juta jiwa. Padahal diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 setelah stroke dan jantung koroner.

Para diabetesi tentu memerlukan perawatan medis untuk mengontrol penyakitnya. Perilaku pasien pun diharapkan untuk menaati dan mematuhi saran yang diberikan oleh tenaga medis. Tujuannya adalah menurunkan kadar gula darah dalam tubuhnya. Sayang, masih banyak pasien yang memiliki kesalahpahaman terhadap hal tersebut.

"Seringkali pasien lebih percaya, keukeuh dengan kepercayaannya untuk berperilaku. Sebagai contoh, pasien diabetes lebih percaya obat-obatan herbal yang terkadang tidak jelas isinya dan malah menaikkan kadar gula darah," ungkap dr Em Yunir Sp.PD, KEMD selaku Sekretaris Jenderal Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) di sela-sela acara diskusi "Lindungi Keluarga dari Diabetes Dalam Rangka Memperingati Hari Kesehatan Sedunia 2018", Jumat (13/4/2018) di kawasan Jakarta Pusat.

Dijelaskan dr Em, sejumlah pasien enggan mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter karena takut ginjalnya rusak sehingga beraloh ke pengobatan tradisional. "Padahal dengan begitu kadar gula darahnya tidak terkontrol, gula yang tidak terkontrol merusak ginjal," imbuhnya. Selain itu, ada juga yang memercayai bila obat dapat menyebabkan kebutaan.

Pemahaman lain yang salah adalah konsumsi insulin. Sebagaimana diketahui, para pasien diabetes akan mengalami yang namanya resistensi insulin. Tak sedikit yang berpikir bila insulin yang diberikan dokter akan menyebabkan ketergantungan dan menambah berat badan.

"(Menaikkan berat badan) Itu betul. Insulin itu hormon anabolik sehingga meningkatkan sel-sel, menjadi lebih banyak lemak, otomatis (bertambah). Tapi ada batasnya, rata-rata 4-5 kg bila pemakaian terus menerus dan tidak terhindarkan. Tetapi insulin dapat memperpanjang angka harapan hidup," terang dr Em.

Maka dari itu, dr Em meminta agar pasien diabetesi mengikuti perawatan yang diberikan oleh tenaga medis untuk menurunkan dan mengontrol kadar gula darah. Perlu juga dilakukan monitoring penyakit agar pasien terhindar dari komplikasi. Di sinilah keluarga berperan untuk mengingatkan pasien melakukan pengecekan ke dokter.

"Komplikasi terjadi kalau pengelolaannya tidak baik. Semua komplikasi itu muncul gara-gara gulanya terlalu tinggi," pungkas dr Em. (*)