Derita Penyakit “Bronkopneumonia Retinablastoma”, Kembar Azzam-Ahzan Butuh Bantuan

Kembar Azzam- Ahzan tak bisa nikmati keindahan dunia (istimewa)

WONOSARI, KRJOGJA.com - Tidak ada satu anakpun yang ingin dilahirkan dengan kondisi tak sempurna. Menikmati masa kecil melihat dunia sembari berlarian lepas ke sana kemari tentu saja menjadi keinginan terindah saat berada di usia anak-anak. 

Namun, agaknya hal tersebut tak bisa dilakukan dua anak kembar, Febrian Reynand Azzam dan Febrian Raihan Ahzan yang saat ini telah berusia 2 tahun lebih 2 bulan, warga Padukuhan Gelaran I RT 06/RW 15, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul. Mata kedua bocah ini tak bisa melihat sejak lahir lantaran divonis tim dokter mengalami penyakit Bronkopneumonia Retinahlasoma. 

Kedua orangtua bocah kembar tersebut, pasangan Ariyas Trias Tuti (28) dan Abdul Wasik (29) tak bisa berbuat banyak. Keterbatasan ekonomi lantaran Abdul Wasik hanya berprofesi sebagai buruh bangunan di Bekasi Jawa Barat nyatanya tak mampu menjamin kesejahteraan keluarga tersebut. 

Kepada wartawan, Ariyas menceritakan proses kehamilan yang dilalui saat itu memang belum paripurna. Azzam dan Ahzan dikisahkannya lahir prematur di usia kandungan tujuh bulan. 

“Dulu 7 bulan lahir, terus di RSUD (Wonosari) dimasukkan inkubator selama 29 hari, opname terus sampai satu bulan. Pas tujuh bulan kok tidak ada respon dikasih minum juga tak respon, dibawa ke spesialis anak sampai RSUP Dr Sardjito. Waktu itu ada saudara di Yogya kasihan terus mengusahakan cari donatur untuk bawa ke RS spesialis mata, tapi ternyata dokter sudah angkat tangan,” ungkapnya. 

Meski keduanya sudah mencapai usia dua tahun namun keluarga tersebut tak lantas lepas dari kesedihan. Kesulitan ekonomi membuat kedua anak balita itu tak mendapat asupan gizi sesuai kebutuhannya pun masih harus rutin berobat. 

“Sekarang jujur sangat keteteran, bapaknya memang mengirim uang tiap bulan, tapi tidak cukup. Jaminan kesehatan kami juga tidak ada. Apalagi kemarin si kembar ini harus ditranfusi darah karena HB (hemoglobin) nya rendah. Sebulan bisa 4 kali berobat, ya mentok ke Puskesmas saja karena kalau langsung RSUD nanti takutnya mondok, tidak ada biaya,” sambungnya. 

Kesabaran keluarga tersebut kini semakin diuji setelah sang nenek mengalami stroke dan tak lagi bisa beraktivitas. Keseharian Ariyas pun kini dihabiskan untuk merawat kedua anaknya dan ibu kandungnya yang terbaring di kasur. Beruntung masih ada putera pertama Ariyas, Satria Fargas Febri Saputra (9) yang bisa membantu membuatkan makanan-minuman untuk kedua adiknya. 

Meski di tengah segala keterbatasan, Ariyas pun masih terus bersyukur atas apa yang dimiliki. Berkah suami yang masih bekerja tetap terus disyukuri meski sebenarnya ia sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan sesama. (Fxh)

 

Tulis Komentar Anda