Jateng Editor : Ivan Aditya Rabu, 14 Maret 2018 / 15:50 WIB

Proyek Jalingkut Kebumen Sulit Hindari Kawasan Perhutani

KEBUMEN, KRJOGJA.com - Akibat dihadang kendala alam berupa banyak lokasi ekstrim di kawasan pegunungan, Proyek Jalingkut (jalan lingkar utara) Kebumen yang melewati puluhan desa 10 kecamatan akhirnya sulit menghindari pemakaian lahan Perum Perhutani.

"Dalam perencanaan lokasi jalan kami sering terbentur masalah sulit, yaitu adanya kondisi alam yang ekstrim seperti jurang atau batu besar di dalam tanah. Dalam hal ini penggunaan lahan Perhutani tak bisa dihindari karena merupakan satu-satunya solusi dan tak ada aternatif lain," ungkap Kabid Infrasruktur dan Pengembangan Wilayah Badan Penelitian Perencanaan dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kebumen, Achmad Aminudin Wahid ST, di ruang kerjanya, Rabu (14/03/2018).

Menurut Achmad Proyek Jalingkut merupakan salah satu proyek terobosan yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen sejak 2016 lalu, guna peningkatan akses transportasi darat di puluhan desa 10 kecamatan kawasan pegunungan Kebumen yang meliputi Padureso, Poncowarno, Alian, Karangsambung, Sadang, Karanggayam, Gombong, Karanganyar, Sempor dan Rowokele.

"Tahun 2018 ini kami sudah merampungkan tahap penelitian dan perencanaan lokasi jalan, juga izin penggunaan lahan Perhutani, dan hanya tinggal penyusunan anggarannya," ujar Achmad.

Selain penyusunan anggaran pembuatan fisik jalan yang direncanakan akan dimuat dalam APBD 2019 Kebumen, Bappeda juga akan menghitung anggaran pembayaran kompensasi penggunaan lahan kepada Perhutani di belasan lokasi di Kecamatan Karangsambung, Sadang, Karanggayam, Sempor dan Karanganyar.

"Dalam tahap perencanaan lokasi jalan sebenarnya kami berprinsip untuk berusaha menghindari penggunaan lahan kawasan Perhutani. Selain untuk menghemat anggaran, agar kami tak perlu menunggu keluarnya izin Perhutani," jelas Achmad. (Dwi)