DIY Editor : Ivan Aditya Rabu, 14 Maret 2018 / 14:30 WIB

Pemimpin Sejati Harus Mengutamakan Kepentingan Rakyat

YOGYA, KRJOGJA.com - Seorang pemimpin harus memberi pemahaman kepada keluarga untuk selalu mendahulukan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Sebab, pemimpin sejatinya menjadi pelayan yang harus mengetahui keinginan rakyatnya.

Demikianlah makna pemimpin yang disampaikan GBPH H Prabukusumo dalam diskusi mengangkat tema 'Jadilan Pemimpin yang Mempunyai Pikiran, Niat dan Hati yang Mulia' sebagai rangkaian Harlah ke-5 PP Ulul Albab Balirejo Muja Muju Umbulharjo Yogyakarta, Selasa (13/03/2018) malam.

Menurut rayi dalem ini, etika kepemimpinan tersebut sudah sejak dini ditanamkan bagi keluarga Kraton Yogyakarta. Hal tersebut juga tercermin dari keberadaan Kraton Yogyakarta yang menjadi kerajaan Islam. Termasuk gelar yang disandang sultan bertahta, sebagai wujud implementasi kepemimpinan dalam menegakkan agama, sosial kemasyarakatan, sopan santun dan lainnya.

"Sehingga untuk menjadi pemimpin yang mempunyai pikiran, niat dan hati mulia, harus belajar yang runtut, santun dalam bersikap, berbicara dan berusaha serta taat beribadah," sebut Gusti Prabu.

Sementara itu Habib Sholeh bin Muhsin bin Jindan menjelaskan, pemimpin sejati bisa dilihat sebagaimana kepemimpinan yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW kkemudian dilanjutkan sahabat. "Pemimpin sejati itu mau menjadi pelayan yang baik untuk rakyat. Mengutamakan akhlak dan adab sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW," tutur habib Sholeh.

Sementara itu pengasuh PP Ulul Albab Balirejo KH Ahmad Yubaidi mengatakan, di usianya yang sudah lima tahun sejak didirikan 3 Maret 2013 lalu, pihaknya ingin terus mengabdi pada masyarakat dengan membentuk karakter generasi muda. Menjadikan insan yang cerdas secara spiritual dan intelektual. "Termasuk dengan tahfidzul quran dan 'ngaji' kitab kuning yang menjadi kegiatan wajib bagi santri PP Ulul Albab Balirejo," ungkapnya.

Rangkaian harlah ke-5 PP Ulul Albab Balirejo ini dibuka dengan pembacaan Salawat Simthudduror dipimpin Habib Abdullah bin Husein Assegaf dan Habib Sholeh bin Muhsin bin Jangan dari Jakarta. (Feb)