Jateng Editor : Danar Widiyanto Rabu, 14 Maret 2018 / 13:20 WIB

Soal Harga Gabah Petani, Pemerintah Dinilai Belum Mampu Melindungi

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Pemerintah hingga kini dinilai belum mampu melindungi harga gabah petani. Disaat petani tidak panen harga gabah dan beras melambung, namun di tengah musim panen, harga cenderung turun. Bahkan petani mengkhawatirkan harga gabah dan beras akan terus turun disaat memasuki puncak musim panen.

Demikian terungkap dalam panen raya dan serapan gabah (sergab) tahun 2018 di Desa Sumbersari Kecamatan Banyurip Kabupaten Purworejo, Rabu (14/3/2018). Panen raya dilakukan oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Purworejo.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo Ir Bambang Jati MT MA, panen raya dilakukan di lahan persawahan penduduk seluas 153 hektar dengan padi jenis ciherang.

“Hasil penan musim tanam pertama (MT I)  ini mengalami peningkatan hingga sekitar 15 persen jika dibanding hasil panen pada musim sebelumnya,” katanya.

Dijelaskan dalam musim panen ini rata-rata setiap hektaranya mencapai sekitar 8 ton gabah kering panen (GKP). Sebelumnya hasil panen di Purworejo rata-rata hanya berkisar antara 6,5 hingga 7,5 ton per hektar GKP.

Dipilihnya jenis padi ini menurut Bambang Jati yang didampingi Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir Eko Anang SW, karena tahan penyakit terutama hama kresek, dan umurnya lebih pendek, 105 hari sejak tebar benih atau 90 hari sejak panen.

Bambang Jati juga mengakui setelah memasuki musim panen ini, harga gabah dan beras di pasaran cenderung turun. Harga beras medium di pasaran berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 9.750 per kg. Harga ini turun jika dibandingkan saat sebelum panen yang mencapai Rp 13.000 per kg.(Nar)