Olahraga Agregasi    Rabu, 14 Maret 2018 / 01:43 WIB

Polemik Aturan Servis Baru di Mata Herry IP

BIRMINGHAM (KRjogja.com) – Pelatih Ganda Putra Pelatnas PBSI, Herry Iman Pierngadi, memberikan pandangan soal aturan servis baru yang juga akan diberlakukan di All England 2018 Super 1000 pada 14-18 Maret 2018. Menurutnya aturan tersebut sangat merugikan bagi para pemain.

Aturan servis baru itu telah diuji coba pada turnamen sebelumnya di Jerman Open 2018 Super 300 pekan lalu. Hasilnya banyak pemain mengalami nasib sial yang bahkan berakibat fatal dengan kekalahan. Diantaranya dialami juga oleh pasangan Indonesia yakni Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (perempatfinal) dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (final).

Namun begitu, Herry tak ingin berlarut-larut dalam aksi protes ini. Pasalnya turnamen All England kini sudah ada di depan mata. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk meminta para pemainnya beradaptasi dengan aturan servis setinggi 115 cm itu.  

“Ini merugikan untuk semua pemain, khususnya ganda. Kami harus mencari solusinya, jangan sampai kami terlalu lama menyalahkan aturan baru ini, bagaimana pun juga, aturan ini harus dijalani dan kami harus beradaptasi,” ungkap Herry, mengutip dari laman resmi PBSI, Selasa (13/3/2018).

Tetapi, Herry mengkritisi satu hal bahwa aturan ini hanya bisa dinilai oleh pandangan service judge. Sementara sudut pandang setiap service judge selalu berbeda. Pelatih berusia 53 tahun itu akan setuju jika penilaian servis ini dilakukan menggunakan teknologi.

“Dengan uji coba di Jerman Open 2018 kemarin, menurut saya, semua balik lagi ke service judge-nya. Jadi kami bergantung pada seseorang, bisa saja dibilang kemenangan ditentukan oleh service judge,” tambahnya.

“Seperti Fajar main dari babak pertama sampai semifinal Jerman Open itu servisnya aman, tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali? Saya lihat posisinya servisnya sama, tingginya sama, semua sama, tapi service judge beda orang,” lanjutnya.

“Jadi yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga, jadi kalau dinyatakan salah, kami bisa challenge dengan bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan, ini lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan ini mutlak, tidak bisa diprotes,” tutupnya. (*)