Olahraga Agregasi    Rabu, 14 Maret 2018 / 06:51 WIB

Herry IP Optimis Ganda Putra Bakal Juara di All England 2018

BIRMINGHAM (KRjogja.com) – Ganda putra Indonesia tampaknya mengalami nasib kurang menguntungkan dalam hasil undian All England 2018 yang berlangsung pada 14-18 Maret 2018. Pasalnya sejumlah pasangan Merah Putih harus saling membunuh di babak-babak awal.

Namun begitu, pelatih ganda putra pelatnas PBSI yakni Herry Iman Pierngadi mengaku tetap optimis untuk mempertahankan gelar. Tahun lalu, ganda putra berhasil mengamankan satu gelar bagi Indonesia di ajang bulu tangkis tertua dunia ini melalui Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Tahun ini, Indonesia menurunkan kekuatan empat ganda putra untuk kembali mempertahankan titel All England 2018. Selain Marcus/Kevin, Tim Merah Putih memainkan tiga pasangan lainnya yakni Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Angga Pratama/Rian Agung Saputro.

etapi tiga pasangan Indonesia memiliki kemungkinan akan saling bertemu sebelum memasuki babak delapan besar. Satu yang pasti satu pasangan ganda putra akan tersingkir di babak pertama. Sebab Marcus/Kevin akan bertemu Angga/Rian di babak 32 besar. Setelah itu, pemenang duel tersebut akan berkemungkinan bertemu Fajar/Rian.

Sementara itu, Ahsan/Hendra berada di undian yang terpisah. Mantan juara dunia itu akan menghadapi pasangan Belanda, Jacco Arends/Ruben Jille di babak pertama. Herry pun menanggapi hal itu dengan memberikan masukan yang positif kepada BWF.  

“Optimis tetap dong, tetapi disayangkan drawing-nya kurang menguntungkan untuk Indonesia. Masukan buat BWF, kalau turnamen penting seperti All England, ada baiknya proses drawing itu disiarkan langsung via live streaming atau ada saksi,” ungkap Herry, mengutip dari laman resmi PBSI, Selasa (13/3/2018).

Herry mencontohkan seperti gelaran turnamen beregu Piala Thomas-Uber dan Sudirman, undian selalu dilakukan manual dan terbuka. Hal tersebut bisa dirasakan adil dan lebih terbuka. Apalagi All England adalah salah satu turnamen bergengsi.

“Misalnya seperti di beregu, drawing manual dan bisa dilihat semua orang. Jadi kalau draw-nya sudah begitu dan masih ketemu sesama Indonesia, ya namanya nasib. Kalau pun drawing menggunakan komputer, ada baiknya bisa disaksikan, kan jauh lebih fair, ini menurut pemikiran saya,” pungkasnya. (*)