Modal Persatuan Rawat Keberlangsungan NKRI

Suasana Dialog Kebangsaan dalam rangka milad ke-54 IMM di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Foto: Febriyanto

YOGYA (KRjogja.com) - Bangsa Indonesia jika dilihat dari usianya masih sangat muda. Sebab itu tidak berlebihan menyebut bangsa ini belum jadi dan masih terus berproses.

"Sebab itu, karena usianya yang masih muda, bangsa Indonesia perlu dirawat dengan sebaik-baiknya. Butuh pemikiran besar yang jauh ke depan dan bukan pikiran partisan," tutur Buya Syafii Maarif dalam Dialog Kebangsaan mengangkat tema 'Merajut Persatuan dan Keamanan Bangsa bersama Semua Kalangan' dalam rangka Milad ke-54 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (13/3).

Menurut Buya, modal Indonesia dalam berbangsa sudah diawali sekitar abad ke-5 dalam bentuk kerajaan. Tapi saat itu bukanlah Indonesia, melainkan modal untuk menjadi Indonesia.
"Jika ditanya apa kekurangannya, tidak lain adanya keadilan yang masih belum turun sepenuhnya di muka bumi. Keadilan itu masih menggantung di langit tinggi. Karena itu saya berharap, IMM jangan hanya memikirkan Muhammadiyah, tapi bangsa secara lebih besar," tegas Buya.

Sementara anggota DPD RI asal DIY M Afnan Hadikusumo turut menegaskan bahwa NKRI diawali dari kesepakatan daerah dan kerajaan di masa lampau. Hal itu yang terus disepakati di parlemen untuk mempertahankan NKRI. "Kenyataannya Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika. Sebab itu penting menjaga toleransi demi keutuhan bangsa ini," sebut Afnan.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan, posisi Sleman sebagai miniatur Indonesia menuntut masyarakat dan siapapun yang tinggal di wilayah ini untuk terus merajut kebersamaan. Selain itu juga diharapkan terus menjaga toleransi yang direalisasikan di tengah masyarakat.
"Termasuk saat terjadi peristiwa penyerangan di Gereja St Lidwina belum lama ini. Semua bersatu padu menjaga keamanan dan kondusivitas di Sleman," sebutnya.

Sementara itu Kapolda DIY Brigjen Ahmad Dofiri mengatakan, seiring waktu masyarakat sudah mulai sadar bahwa keamanan menjadi tanggung jawab bersama. Selain memang selama ini kepolisian memiliki tugas pokok dalam hal keamanan ini. "Kesadaran masyarakat terus meningkat tentang keamanan ini. Sebab, partisipasi masyarakat menjadi salah satu modal berharga untuk menciptakan keamanan tersebut. Jika tidak ada partisipasi aktif masyarakat, bangsa ini gampang untuk dipecah karena tiada modal kesatuan dan persatuan," tegas Dofiri.

Ditambahkan, bangsa ini menghadapi tantangan besar ke depan di era kompetisi global. Termasuk yang harus diwaspadai mengenai gejolak sosial politik yang rentan menimbulkan konflik sosial di masyarakat. "Persoalan intoleransi, radikalisme dan terorisme harus terus diwaspadai," tukasnya. (Feb)

Tulis Komentar Anda