Jateng Editor : Danar Widiyanto Selasa, 13 Maret 2018 / 21:50 WIB

Maju Tingkat Jateng, Ini yang Unik dari Perpustakaan Desa Ngablak

MAGELANG, KRJOGJA.com - Berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi, tak menyurutkan warganya untuk mendirikan perpustakaan desa. Meski setelah sempat vakum selama dua tahun akibat dampak erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, tak membuat pengelola perpustakaan di Desa Ngablak Kecamatan Srumbung, putus asa. Bahkan mereka semakin termotivasi untuk kembali aktif.

Bagai gayung bersambut, mereka kini menjadi juara pertama Tingkat Kabupaten Magelang pada penilaian 2107. Kini mereka pun akan maju mewakili Kabupaten Magelang ke tingkat Propinsi Jawa Tengah, April 2018 mendatang. “Kami mengalahkan perpustakaan desa sedayu kecamatan, muntilan dan majaksingi di kecamatan borobudur,” kata Kepala Desa Ngablak, Ahmad Farihin, Selasa (13/03/2018).

Salah satu unggulan perpustakaan desa ini adalah inovasi dan kreatifitasnya untuk menjaring pembaca baru. Yakni menetapkan 15 Kader Baca Keluarga yang bertugas memberikan edukasi kepada kaum ibu agar membacakan buku untuk anak. "Mereka bertugas menumbuhkan semangat membacakan buku untuk anak-anak, sehingga mengurangi kebiasaan anak bermain gadget," imbuh Kasihan, Pengelola Perpustakaan Desa Ngablak.

Sementara untuk mendekatkan diri dengan warga, pihaknya melakukan dropping buku ke tujuh dusun yang ada. Di setiap dusun terdapat satu titik dropping buku. Proses pengurusan peminjaman di tujuh titik tersebut dilakukan oleh anak-anak, sebab mereka dianggap lebih peduli terhadap pemeliharaan buku.
"Selain itu, juga untuk mendidik anak mengelola buku sejak dini," tambahnya.

Kegiatan perpustakaan tidak hanya seputar membaca dan meminjam buku. Pihaknya juga merancang kegiatan edukasi yakni pengenalan seni angklung dan menonton film bersama. "Sekolah-sekolah di desa ini sering mengadakan kunjungan bersama ke perpustakaan kemudian menggelar nonton film anak bersama," ungkapnya.

Disampaikan Kasihan, perpustakaan desanya dirintis awal tahun 2000 oleh seorang warga bernama Muhadi, pensiunan guru SD. Karena memiliki banyak Buku, Muhadi meminjamkannya untuk anak-anak di sekitar rumah. Rupanya banyak yang berminat, sehingga buku-buku itu kemudian dikelola di gedung karang taruna yang ada di Dusun Purwosari.

Gedung tersebut kemudian berkembang menjadi perpustakaan. Namun, akibat erupsi Merapi 2010 lalu, banyak buku yang rusak karena abu vulkanik masuk ke ruang perpustakaan. Setelah perekonomian warga pulih tahun 2012, pembenahan perpustakaan mulai dilakukan. Setiap tahun, Pemerintah Desa menganggarkan Rp 25 juta untuk menambah koleksi buku. Pada tahun 2017, pemerintah desa menganggarkan Rp190 juta untuk membangun gedung baru.

Perpustakaan yang awalnya hanya memiliki 400 buku itu, saat ini telah memiliki 1.200 koleksi buku dari beragam bidang, seperti fiksi, ilmu pengetahuan, pertanian, agama, hingga buku pelajaran. Jumlah itu terus bertambah dari berbagai sumber, bahkan telah ada 600 buku masuk yang masih dalam proses inventarisasi. “Kami mengapresiasi semangat warga dalam menumbukan minat baca di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Dalam waktu dekat, kami juga tengah menyiapkannya menjadi perpustakaan digital," kata Asisten Administrasi Umum Sekda Kabupaten Magelang, Endra E Wacana. (Bag)