Ekonomi Editor : Danar Widiyanto Selasa, 13 Maret 2018 / 17:40 WIB

Bekraf Ajak Pebisnis Kuliner Yogya Berkembang Lewat FoodStartup Indonesia

SLEMAN, KRJOGJA.com - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Selasa (13/3/2018) mengumpulkan pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di bisnis makanan bertempat di Artotel Jalan Kaliurang. Para pengusaha dari berbagai klasifikasi usia dan jenis makanan diajak untuk mengembangkan usaha melalui program FoodStartup Indonesia.

Syaifullah, Deputi Akses Permodalan Direktorat Akses Non Perbankan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengungkap tahun 2018 ini pihaknya kembali menggelar sosialisasi FoodStarup Indonesia untuk membawa pebisnis kuliner mendekatkan diri dengan investor. Beberapa kota sebelumnya telah didatangi untuk menjaring pegiat berbagai jenis kuliner yang kini bergerak di bidang startup.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

“Yogyakarta merupakan kota ke tujuh dan sangat menarik datang ke sini terlebih karena juara pertama FoodStartup Indonesia tahun 2017 berasal dari sini yakni Matchamu. Kami ingin memberikan peluang teman-teman pengusaha kuliner untuk mengurai permasalahan yang dihadapi selama ini salah satunya mempertemukan dengan investor,” ungkapnya.

Dari seluruh kota di Indonesia nantinya Bekraf akan menjaring 100 startup kuliner terbaik dan seluruhnya berkesempatan mengikuti expo di Surabaya pada Juli 2018. “Dari 100 nanti kami akan pilih 30 terbaik dan akan dipertemukan dengan investor melalui serangkaian tahapan seperti pitch desk, mentoring dan pitching sehingga peluang berkembang semakin besar. Untuk tiga terbaik nantinya akan mendapat bantuan modal Rp 200 juta dan kesempatan promosi baik di dalam dan luar negeri,” sambungnya.

Hanifah Makarim, Kasubdit Dana Masyarakat Direktorat Akses Non Perbankan Bekraf menambahkan FoodStartup Indonesia sangaja dibuat sejak tahun 2016 untuk menghubungkan pegiat kuliner dengan ekosistem yang ada. Bekraf menurut dia bakal membantu mengurai permasalahan terkait akses permodalan, akses pemerintah, Balai POM hingga Hak Intelektual baik brand maupun produk yang selama ini kerap ditemui para pengusaha.

“Banyak yang sebelum ikut program ini nilai produknya murah namun kemudian setelah mendapat investasi berupa mentoring dari ahli kemudian harga produknya naik tiga kali lipat karena detail packagingnya digarap, dan penjualannya terus laku dengan jangkauanblebih luas. Belum lagi tiga tahun ini angka modal non perbankan yang disalurkan ke pegiat kuliner mencapai Rp 150 miliar yang tentu saja bukan jumlah sedikit,” terangnya.

Bekraf berharap di tahun 2018 jumlah peserta FoodStartup Indonesia semakin bertambah dan kualitas produk yang ditampilkan lebih beragam. “Kuliner memang satu keunggulan bagi ekonomi kreatif Indonesia jadi mengapa tidak kita maksimalkan,” sambung Hanifah.

Nah, kamu punya usaha kuliner dan tertarik mengembangkan bisnismu melalui ekosistem Bekraf? Langsung saja jajal klik www.foodstartupindonesia.com untuk beradu strategi mengembangkan bisnis menjadi lebih besar. (Fxh)