KOLOM Editor : Ivan Aditya Selasa, 13 Maret 2018 / 17:54 WIB

Novel Jawa, Masihkah Dibutuhkan?

KEGIATAN penulisan novel berbahasa Jawa (novel Jawa) termasuk kegiatan kebudayaan yang mendapat alokasi dana signifikan dari dana keistimewaan Pemda DIY. Pada 2018, sayembara penulisan novel Jawa memperebutkan hadiah sebesar Rp 175 juta. Hadiah sebesar itu diperuntukkan bagi 5 pemenang (setiap pemenang memperoleh Rp 20 juta) dan 15 peserta yang karyanya masuk nominasi (masing-masing Rp 5 juta).

Sayembara penulisan novel Jawa kali ini merupakan sayembara ke-2 di DIY pascaberlakunya UU Keistimewaan. Tahun 2017, terpilih 5 pemenang yang masing-masing mendapatkan hadiah Rp 15 juta. Sedangkan 15 pengarang yang karyanya masuk nominasi masing-masing memperoleh hadiah Rp. 2,5 juta. Ke-5 karya pemenang tersebut telah diterbitkan dalam bentuk buku. Pada sayembara penulisan novel Jawa tahun ini, ke-5 karya pemenang juga akan diterbitkan menjadi buku.

Terobosan Budaya

Lomba penulisan novel Jawa sekaligus penerbitan karya pemenangnya merupakan hal yang positif ditinjau dari sisi kebudayaan dan pendidikan. Novel Jawa mungkin termasuk produk seni budaya, khususnya kesusasteraan, yang kurang populer. Dibandingkan seni tari dan seni pertunjukan tradisional lain, kegiatan olah karya sastra (Jawa) masuk termasuk marginal. Tetapi dalam konteks pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan bahasa dan sastra Jawa, dan terkhusus lagi, pengembangan pengajaran bahasa Jawa di lembaga persekolahan, novel Jawa memiliki posisi yang sangat strategis.

Pertama, karya sastra Jawa, seperti novel, cerita pendek dan puisi (tembang dan geguritan) merupakan pendukung utama pengajaran Bahasa Jawa. Pengajaran Bahasa Jawa di sekolah-sekolah yang dikembangkan di DIY, Jateng dan Jatim, tak akan ada artinya tanpa adanya bacaan berbahasa Jawa. Kedua, keberadaan novel Jawa dan jenis lain karya sastra Jawa, merupakan dokumentasi perkembangan Bahasa Jawa sekaligus sarana untuk mendiseminasikan Bahasa Jawa di tengah-tengah masyarakat. Bahasa Jawa yang ada dalam karya sastra dapat dijadikan acuan pengembangan bahasa Jawa tulis di masa-masa yang akan datang. Perkembangan suatu bahasa akan mengalami banyak distorsi bila hanya mengandalkan bahasa lisan.

Literasi Budaya

Novel Jawa sejatinya merupakan genre baru karya sastra Jawa. Genre karya sastra tersebut muncul bersamaan dengan hadirnya sistem pendidikan modern (Barat) di Indonesia. Sebelum itu, karya sastra Jawa yang ada hanya berupa tembang atau puisi lama.

Merunut sejarahnya, penulisan dan penerbitan novel Jawa dimulai sekitar tahun 1911, sejak hadirnya penerbit Balai Pustaka. Tujuan penerbitan novel Jawa kala itu untuk menyediakan bacaan yang bermanfaat bagi rakyat. Sebagaimana ditulis JJ Ras (1979), kebanyakan pengarang novel Jawa era itu adalah para guru, dan pembacanya adalah murid sekolah. Novel Jawa yang terbit saat itu diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Sampai menjelang kemerdekaan, penerbitan novel Jawa masih didominasi penerbit Balai Pustaka. Namun pascakemerdekaan, kehadiran Balai Pustaka tersaingi penerbit swasta. Ini terjadi bersamaan dengan perkembangan media massa cetak yang mulai marak di mana-mana. Kehadiran majalah-majalah berbahasa Jawa pascakemerdekaan, memunculkan kegairahan olah sastra Jawa, termasuk penulisan dan penerbitan novel. Tetapi kegairahan itu mulai surut seiring dihilangkannya pengajaran Bahasa Jawa di sekolah-sekolah sejak berlakunya kurikulum 1974.

Digalakkannya kembali pengajaran Bahasa Jawa di sekolah-sekolah sebagai dampak Kongres Bahasa Jawa (KBJ) yang dilangsungkan 5 tahun sekali sejak 1991, sedikit demi sedikit mulai menggairahkan kembali olah sastra Jawa. Sejak menjelang reformasi sampai menjelang KBJ IV 2016 yang digelar di Yogya, setiap tahun selalu ada beberapa judul karya sastra Jawa yang terbit dalam bentuk buku, termasuk novel.

Kini dengan dukungan danais, setiap tahun di DIY bisa terbit 5 judul novel hasil sayembara. Hal yang masih disayangkan, pertama, oplah penerbitannya masih terbatas. Kedua, belum ada koordinasi yang baik dengan Dinas Pendidikan, yang memungkinkan novel-novel berbahasa Jawa menghiasi perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Bagaimana halnya dengan Jateng dan Jatim? Dengan APBD yang besar, sesungguhnya kedua provinsi itu juga bisa meniru pola penerbitan novel Jawa di DIY. Persoalannya tinggal masalah komitmen dan niat. Apalagi sudah ada perdanya segala.

(Sarworo Soeprapto. Peminat masalah sosial dan kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 13 Maret 2018)