Kementan Optimis Wujudkan Kedaulatan Pangan

Amran Sulaiman menyampaikan kuliah umum di Fakultas Pertanian UGM. Foto: Devid Permana

YOGYA (KRjogja.com) - Sebagai negara agraris, Indonesia sebenarnya mempunyai seluruh modal untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan disektor pangan, mulai dari ketersediaan lahan, infrastruktur dan sumber daya manusia. Permasalahan yang masih kerap dihadapi justru pada aturan/kebijakan yang tidak mendukung, serta mental SDM yang rendah. 

"Kita bongkar aturan yang tidak mendukung dan prioritaskan perbaikan mental SDM," terang Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat menyampaikan kuliah umum di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (12/3/2018).

Menurut Amran, untuk mengefektifkan sistem distribusi benih, pupuk, pestisida dan alsintan, pemerintah telah merevisi Perpres 172/2014, dari mekanisme tender menjadi penunjukan langsung. Hal itu dilakukan karena selama ini distribusi pupuk atau pestisida sering terlambat, menyebabkan kerugian tidak sedikit di pihak petani. Ia menyontohkan keterlambatan pengiriman pupuk selama 1-2 minggu, menimbulkan kerugian kehilangan 0,5 ton Gabah Kering Giling (GKG)/hektare. "Kebijakan yang salah, dampaknya lebih besar dari korupsi. Maka jangan sampai aturan yang ada justru merugikan petani," kata Amran.

Kemudian untuk memperbaiki kualitas mental SDM, Kementerian Pertanian melakukan revolusi mental. Yaitu lelang jabatan secara transparan, demosi/mutasi 1.295 pejabat dan sanksi bagi pelaku pungli. Bahkan Amran pernah memberhentikan pegawai satu kantor karena terbukti melakukan korupsi berjamaah. Ia juga tak tanggung-tanggung memecat pagawai yang memperlambat 'dwelling time' di pelabuhan. 

"Komitmen tersebut membuahkan hasil, Kementerian Pertanian mendapat penghargaan dari KPK sebagai kementerian dengan sistem pengendalian gratifikasi terbaik," katanya.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045, Kementerian Pertanian, berupaya melakukan swasembada pangan berbagai komoditas. Sedangkan untuk meningkatkan pendapatan, pihaknya mengenalkan teknologi dan mesin-mesin guna memperkecil biaya produksi dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Teknologi juga dibutuhkan untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen.

Kementan juga mendorong inovasi varietas yang tahan hama dan penyakit, contohnya Jagung Nakula Sadewa (Nasa) yang memiliki vigoritas tinggi, pertumbuhan cepat dengan potensi hasil 13,5 toh/ha. Indonesia juga punya raksasa tidur yaitu lahan rawa (swampy land) yang berpotensi menjadi lumbung pangan dengan produktivitas tinggi melalui penerapan teknologi maju. "Rawa seluas 10 juta ha adalah lumbung pangan masa depan Indonesia," katanya. (Dev/Fia)

Tulis Komentar Anda