Jateng Editor : Ivan Aditya Jumat, 09 Maret 2018 / 15:18 WIB

Warga Magelang Rata-rata Perhari Menghasilkan 0,5 Kg

MAGELANG, KRJOGJA.com - ‘Gerebek Sampah’ dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2018 tingkat Kabupaten Magelang, yang juga merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Mungkid ke-34, dilaksanakan di Kecamatan Bandongan Magelang, Jumat (09/03/2018). Ada ratusan peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik dari unsur pelajar, komunitas peduli sampah, bank sampah, ASN, Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang, Koramil BandonganI, Polsek Bandongan maupun lainnya.

Kegiatan gerebeg dilepas Pjs Bupati Magelang Drs Tavip Supriyatno MSi dengan mengibarkan bendera start di depan pintu gerbang halaman Kantor Kecamatan Bandongan, dan ratusan peserta pun mulai melakukan gerebeg sesuai dengan pembagian lokasi masing-masing. Kegiatan ini juga disemarakkan dengan penampilan grup drumband yang dimainkan siswa dari sebuah sekolah di Bandongan serta kesenian daerah Dusun Jurang Bandongan, Goh Muko.

Pjs Bupati Magelang mengatakan kebersihan lingkungan menjadi tanggungjawab semua, bukan hanya tanggungjawab pemerintah. Di wilayah Bandongan sudah ada sekitar 50 bank sampah, dan diharapkan benar-benar dimanfaatkan. “Kalau dahulu membuang sampah sembarangan, sekarang dilakukan dengan dipungut, dipilah dan uang penjualan sampah bisa ditabung,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang Tri Agung Sucahyo disela kegiatan mengatakan rata-rata masyarakat di wilayah Kabupaten Magelang memproduksi sampah setiap harinya sekitar 0,5 Kg. Kalau jumlah pendudukan Kabupaten Magelang sekitar 1.200.000 orang, maka sampah yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Magelang setiap harinya rata-rata cukup banyak.

Sampah-sampah yang dihasilkan tersebut kebanyakan jenis organik, yaitu sekitar 60-70 persen. Di setiap rumah tangga banyak ditemui sampah organiknya.

Di wilayah Kabupaten Magelang, lanjutnya, hingga saat ini baru ada 10 kecamatan yang ada proses penanganan sampahnya. Sedang lainnya masih menggunakan cara konvensional, seperti ditimbun di halaman rumah maupun lainnya. "Mungkin ada yang sampah anorganik yang dikumpulkan, untuk kemudian dijual sendiri," kata Tri Agung. (Tha)