KOLOM Editor : Ivan Aditya Jumat, 09 Maret 2018 / 10:43 WIB

Guru Era 4.0

DUNIA kini memasuki era revolusi industri 4.0, era inovasi disruptif. Inovasi disruptif membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi yang sudah ada. Menghadapi tantangan ini, pendidikan dan pembelajaran dituntut untuk berubah, termasuk di dalamnya pendidikan dan pembelajaran jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Indonesia termasuk negara yang menghadapi tantangan era 4.0. Di Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Global competitiveness index (GCI) Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Semula menempati posisi ke-36, naik lima peringkat ke posisi ke-41 dari 137 negara. Sekalipun demikian, GCI yang sedang merangkak naik ini ternyata belum cukup bersaing di kawasan ASEAN. Dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesia masih di bawah. Tahun ini GCI Thailand di peringkat 32, Malaysia 23, dan Singapura 3. Penyebab GCI Indonesia berada di peringkat rendah di antaranya mengait dengan pendidikan dan pembelajaran. Lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication.

Memperbaiki pendidikan dan pembelajaran pendidikan dasar dan menengah, tidak bisa tidak harus melalui perbaikan kualitas guru. Performa guru era revolusi industri 4.0 adalah guru yang ëngehí dengan digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, tanpa mengesampingkan pentingnya tugas mulia penumbuhan budi pekerti luhur bagi anak didik. Mereka adalah guru yang familier dengan inovasi dan unggul dalam kreasi pendidikan dan pengajaran.

Melalui guru, dunia pendidikan mesti mengonstruksi kreativitas, pemikiran kritis, kerja sama, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi serta kemampuan literasi digital. Guru dituntut menguasi kompetensi kognitif, kompetensi sosial-behavioral, dan kompetensi teknikal. Kompetensi kognitif mencakup kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kompetensi sosialbehavioral, mencakup keterampilan sosial emosional, keterbukaan, ketekunan, emosi yang stabil, kemampuan mengatur diri, keberanian memutuskan dan keterampilan interpersonal. Kompetensi teknikal yang merupakan keterampilan teknis yang sesuai bidang pekerjaan yang digeluti, dan ini terkait dengan pendidikan vokasi.

Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini.† Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan anak didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli ëkecerdasaní mesin sekaligus bijak menggunakan mesin untuk kemaslahatan.

Siapkah guru kita menghadapai era revolusi industri 4.0 ketika masih disibukkan oleh beban penyampaian muatan pengetahuan dan ditambah berbagai tugas administratif? Saat ini yang dirasakan guru kita beban kurikulum dan beban administratif yang terlalu padat sehingga tidak lagi memiliki waktu tersisa memberi peluang anak didik menjelajahi daya-daya kreatif mereka menghasilkan karya-karya orisinal. Akibatnya, interaksi sosial anak didik terbatasi, daya kreasinya terbelenggu, dan daya tumbuh budi pekerti luhurnya bantet.

Implementasi pendidikan dan pembelajaran dibatasi dinding-dinding ruang kelas yang tidak memungkinkan anak didik mengeksplorasi lingkungan pendidikan yang sesungguhnya, ialah keluarga, masyarakat, dan sekolah. Guru menyelenggarakan pembelajaran selalu kaya adate (sebagaimana biasanya) dan bukan kaya kudune (sebagaimana seharusnya), miskin inovasi dan kreasi. Proses††pembelajaran di sekolah tidak lebih merupakan rutinitas pengulangan dan penyampaian (informatif) muatan pengetahuan yang tidak mengasah siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya serta kepedulian sosial. Guru menyelenggarakan pembelajaran tahun ini masih seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi yang belum baik atas performa guru disadari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang baru saja usai menghasilkan rekomendasi perbaikan kuantitas dan kualitas guru terkait dengan ketersediaan, peningkatan profesionalisme, dan perlindungan serta penghargaan guru. Tentu, peningkatan profesionalisme guru tidak dapat dilepaskan dari tantangan revolusi industri 4.0. Kita sedang menunggu realisasi rekomendasi strategis tersebut.

(Ki Sugeng Subagya. Praktisi Pendidikan dan Kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 9 Maret 2018)