KOLOM Editor : Ivan Aditya Senin, 26 Februari 2018 / 22:56 WIB

‘Gak Nyeni’

SAYA punya sahabat yang sukses dan kaya. Rumahnya besar dan megah. Apa saja ada dalam rumahnya yang mewah. Suatu hari saya ditanya, apa kesan terhadap rumahnya yang hebat itu. Entah mengapa, saya harus jawab, rumahnya gak nyeni. Itu juga terkait dengan hidupnya yang super sibuk, selalu peye. Kalau libur pendek dia berjalan dan belanja ke mall, kalau libur panjang dia keluar negeri. Akan tetapi, tetap saja saya mengatakan hidupnya gak nyeni.

Kita sudah punya 7 presiden, tetapi tidak semua presiden adalah presiden yang nyeni. Banyak kota berkembang ke arah modern, tetapi semakin banyak kota yang tidak nyeni. Banyak praktik beragama kehilangan daya seni yang nyeni. Sebagai bangsa, kebudayaan Indonesia mengarah pada hal-hal yang bersifat pragmatis, kehilangan nuansa nyeni-nya. Ritual-ritual seni, tinggal ritualnya, seninya semakin hilang.

Hal lain, saya memperhatikan simbol atau logo-logo partai politik yang akan sangat hits di dua tahun mendatang. Akan tetapi, masya Allah, tidak ada satu pun logo partai politik yang nyeni. Di mana kemampuan nyeni kita yang hanya membuat logo saja buruknya minta ampun. Coba perhatikan baliho-baliho iklan/reklame yang bertebaran di pinggir jalan, sebagian besar sangat jauh dari sesuatu yang nyeni.

Olah Kreativitas

Banyak perdebatan tentang segala hal, sangat banyak perdebatan yang tidak nyeni. Yang paling lucu adalah banyak hasil kerja seni, apakah itu sastra, musik, lukisan, tari, dan sebagainya, tetapi kok semakin gak nyeni. Banyak seniman, tetapi tidak nyeni. Hanya menjadi manusia yang bisa menulis sastra atau melukis, tetapi hidupnya jauh dari nyeni. Misal lain, kita tahu bahwa cerpen-cerpen Seno Gumira Adjidarma bagus, tetapi tidak semua cerpennya nyeni.

Tentu menjadi pertanyaan besar, apa itu yang dimaksud dengan nyeni. Nyeni itu dari Bahasa Indonesia, seni, yang kemudian dalam percakapan sehari-hari (terutama dalam Bahasa Jawa), mendapat imbuhan, dan kemudian menjadi sesuatu yang disifatkan atau sebagai berarti ëindahí, ëartistikí, sesuatu yang bernilai seni. Seni di sini adalah suatu produk hasil olah kreativitas kita, yang melibatkan perasaan, imajinasi, pikiran, dan seluruh daya kemampuan kita sebagai manusia untuk berbuat sesuatu yang terindah (bukan sekadar terbaik).

Rumah sahabat saya yang megah, tapi tidak nyeni itu kasusnya disebabkan dia membangun rumah hanya berdasarkan kalkulasi rasional dan teknis. Dalam proses membangun rumah, dia mengabaikan perasaannya. Menurutnya, perasaan tidak koheren dengan hal rasional dan teknis. Jadilah rumah yang magrong-magrong, tetapi tidak nyeni. Dia tidak paham bahwa perasaan tidak akan pernah bertabrakan dengan hal teknis ataupun rasional.

Saya berani mengatakan bahwa sebetulnya perasaanlah yang paling akurat (presisi) dalam menilai sesuatu, tetapi sekaligus yang paling sulit dijelaskan keberadaannya. Kita tahu sesuatu tidak nyeni, tapi ketika menjelaskannya, akan masuk ke dalam diri kita yang sesungguhnya, hati nurani. Perasaan yang sebetulnya menjadi bawaan paling nyata. Masalahnya adalah kita hidup dalam satu kekuatan ketika diskursif teknis, ekonomis, dan rasional demikian memegang peranan penting. Dalam situasi itu, perasaan diabaikan, keberadaannya dibenam, dan tidak boleh berperan.

Akurasi Perasaan

Bagaimana membuktikan akurasi perasaan. Misalnya, seorang hakim memutuskan perkara seorang pemulung yang tertangkap basah maling dua ekor ayam. Jika hakim tersebut berdasarkan pasalpasal (semisal dalam KUHP), maka maling tersebut akan dihukum, katakanlah, dua bulan penjara. Jika hakim tersebut mulai melibatkan kebijaksanaan (kearifan) dalam dirinya, tidak semata-mata bergantung pasal-pasal, maka oleh kebijakan hakim, maling tersebut dipenjara satu bulan.

Memang, dalam kisah tersebut detil konteksnya tidak bisa ditulis panjang lebar. Namun, jika hakim tersebut melibatkan sepenuhnya perasaannya (rasa keadilan, rasa kemanusiaan, rasa terhalus dalam hati-nuraninya), maka sangat mungkin sang hakim akan membebaskan maling ayam tersebut, dalam berbagai caranya. Pertanyaannya, apakah keputusan sang hakim dikatakan salah, dengan membebaskan maling ayam tersebut.

Di sinilah akurasi perasaan mengambil peranan penting untuk menilai sesuatu tidak semata bergantung nomenklatur teknis dengan berbagai pasal-pasal yang rasional. Sangat mungkin justru sang hakim telah mengambil keputusan yang paling akurat. Jika itu yang terjadi (akurasi perasaan juga tergantung konteks), maka sang hakim tersebut sungguh hakim yang nyeni.

(Dr Aprinus Salam. Budayawan dan akademisi di UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 26 Februari 2018)