Peran Guru Memahamkan Makna Hari Valentine

TANGGAL 14 Februari dirayakan sebagai hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Sebagai guru, penulis mengamati anak didik sibuk merancang acara untuk merayakannya. Ada yang mengumpulkan uang yang digunakan untuk membeli coklat dan akan diberikan kepada teman dekatnya. Ada pula yang merancang acara bersama teman - teman untuk mengikuti perayaan Valentine di pusat perbelanjaan. Rata - rata yang mereka agendakan bersifat konsumtif, padahal ‘Kasih Sayang’ tidak hanya sehari tetapi setiap hari. Karena kasih sayang adalah kepada semua orang yang dijumpai dan sangat membutuhkan. Jadi bagaimana remaja kita memahami tradisi Valentine itu?

Hari Valentine asal mulanya bukanlah dirayakan secara hura - hura. Dari sejarah ada yang mengisahkan, Valentine merupakan perayaan untuk mengenang pengorbanan biarawan Katolik yang menjadi martir Santo Valentinus berbentuk misa (upacara ibadat utama bagi Gereja Katholik). Jadi bukan berwujud hura - hura apalagi konsumtif sebagaimana dipahami dan dilakukan remaja/- pelajar saat ini. Bahkan umat Katholik di Indonesia jarang mengadakan perayaan Valentine. Karena tidak ada tradisi secara liturgis untuk merayakannya. Bila ada, perayaan Valentine dirayakan dengan kesederhanaan dan justru dijadikan momen bersama untuk menebar kasih sayang kepada sesama, tidak selalu laki-laki perempuan dalam arti pasangan/pacar. Namun menebar kasih dengan berkunjung ke panti asuhan anak maupun ke panti jompo. Jadi, hari ‘kasih sayang’ yang kini dirayakan remaja bahkan pelajar kita bisa dikatakan dengan pemahaman tidak pas.

Disinilah sesungguhnya peran guru yang setiap hari bertemu dengan anak didik untuk mengarahkan dan menjelaskan pemaknaan hari Valentine, bila akan merayakan. Tidak merayakan juga lebih baik karena ini bukan budaya Indonesia. Untuk mengarahkan, guru harus dapat mengerti terlebih dahulu sejarahnya dengan mencari sumber referensi yang lebih banyak ataupun mencari narasumber yang lebih memahami pemaknaan hari Valentine tersebut. Tujuannya agar apa yang akan disampaikan kepada anak didik, tidak hanya informasi yang terbatas tetapi disertai bukti - bukti yang relevan agar anak didik lebih berpikir realistis tentang pemaknaan peringatan.

Dalam memahamkan makna Valentine tersebut, guru harus memahamkan secara perlahan. Tidak diperkenankan menyerang ataupun langsung menyalahkan anak didik serta melarangnya. Tetapi lebih memahami anak didik agar nantinya apa yang akan dipahamkan kepada anak didik dapat dimengerti dengan baik. Sebagai contoh, guru terlebih dahulu mengamati apa saja yang dirancang anak didiknya bila akan merayakan hari Valentine. Setelah itu, guru dapat mencoba bertanya apa sebenarnya makna dan asal usul hari Valentine sehingga menggebu untuk merayakannya. Bila anak didik hanya mengerti sepintas atau hanya sekadar ikut - ikutan teman, waktunya guru memahamkan mengapa ada hari Valentine dan bagaimana makna sebenarnya hari tersebut.

Anak remaja, tidak bisa dilarang. Disinilah peran guru mengajak anak didik untuk memilih atau mengambil keputusan, apakah perayaan Valentine lebih banyak bernilai positif ataukah justru lebih bernilai negatif. Bila anak didik ingin tetap merayakannya, guru dapat mengarahkannya yang memberi kemanfaatan bagi sesama sesuai dengan esensi ‘kasih sayang’tersebut. Yaitu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan dengan hati nurani yang luhur tanpa membedakan - bedakan. Jika ingin merayakan tentu bukan secara konsumtif dan hura-hura. Namun berbagi kasih ke panti asuhan, menghibur orang yang sedang berduka ataupun berbagi kebersamaan dengan kakek-nenek di panti jompo akan lebih bermakna. Dan untuk ini, bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu 14 Februari.

Bimbingan guru sangat diperlukan supaya anak didik tidak mengikuti dan salah mengikuti budaya barat. Dalam artian, guru tidak melarang anak didik mengetahui dan mengenal tradisi barat, namun anak didik harus dapat pula mengetahui, memahami sampai memilah budaya tersebut cocok atau tidak untuk diikuti. Tetapi sekali lagi, memahamkan perayaan ini bukan budaya apalagi tradisi Bangsa Indonesia adalah hal penting.

(Yulianti SPd. Guru Honorer SMP dan SMA Kota Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 14 Februari 2018)

Tulis Komentar Anda