KOLOM Editor : Ivan Aditya Rabu, 14 Februari 2018 / 23:44 WIB

Apa Kabar Transjogja?

PERNAH membayangkan bagaimana moda transportasi publik bekerja? Coba sekali dua kali perhatikan Transjogja di semua jalur yang pernah Anda jumpai. Sempatkan menengok dan buka kaca jendela mobil atau naikkan kaca helm Anda biar jelas berapa banyak penumpang yang dijumpai di sana. Dalam pengamatan kasar yang berkalikali saya lakukan selama lima bulan (khususnya 2017) lebih--pada setiap hilir mudik bus Transjogja tidak pernah melihat bus penuh.

Di banyak kesempatan di jalan raya, saya mendapati rata-rata penumpang bus dalam setiap jalur hanya berkisar tujuh dan yang pasti di bawah 10. Jika sore ke malam, Anda jangan terkejut jika melihat Transjogja seperti bus yang mencemaskan. Kesepian bahkan tanpa seorang pun penumpang! Betapa sia-sianya transportasi publik ini.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Lebih Akrab Memang, statemen saya di atas hanya sekadar hasil dari pengamatan kasar. Saya tidak melihat data jumlah penumpang yang (mungkin) dikeluarkan PT Jogja Tugu Trans ataupun PT Anindya Mitra Internasional selaku operator sebuah sistem transportasi bus cepat tersebut. Jika memang butuh pendalaman sebagai sebuah evaluasi, saya kira kita tentu harus mengecek lebih detail dan komprehensif. Tapi siapa yang peduli pada moda transportasi publik, termasuk Transjogja?

Sudah rahasia umum bahwa bangsa ini tidak akrab dengan transportasi publik kota. Di banyak kota di Indonesia (di samping karena fasilitas, kuantitas dan kualitas moda transportasinya yang payah), publik kita lebih akrab dengan kendaraan pribadi, yaitu motor: lebih praktis, cepat dan murah. Akhirnya, penduduk kota, termasuk di Jogja, yang memakai kendaraan umum berupa bus kota bisa dihitung dengan jari. Coba bikin social experiment secara random dan bertanya khususnya kepada mahasiswa yang belajar di Yogyakarta: apakah pernah naik Transjogja? Dengarkan sendiri jawabannya.

Setiap kali melihat Transjogja yang kosong melompong tanpa penumpang, pikiranku kembali berkelana mengulang pengalaman di berbagai kota di banyak negara. Saya berpikir bahwa transportasi publik harusnya akrab dan menjadi bagian dari denyut publik, dicintai sebagai moda transportasi masyarakat. Tidak bisa membayangkan transportasi yang digagas pemerintah dengan dana yang tidak sedikit dibiarkan seperti kendaraan pribadi yang hanya ditumpangi tiga sampai tujuh orang. Coba misalnya kita tanyakan, berapa besar kerugian negara setidaknya selama satu tahun terakhir?

Terbiasa Lambat

Moda transportasi publik seperti bus memang tidak harus selalu dipandang secara profit, dalam artian untung rugi. Karena kendaraan publik sejatinya memang menjadi fasilitas, semacam kehadiran pemerintah dan tanggung jawab pengelolaan mereka, kepada publik yang mungkin saja rugi ataupun membutuhkan subsidi. Yang ingin saya tekankan di sini adalah kebermanfaatan dan fungsi Transjogja.

Semua orang sudah mafhum bahwa Indonesia mempunyai masalah penting soal transportasi publik kota. Kita sudah terbiasa lambat menangani kondisi krusial seperti ini. Misalnya saja, kota besar seperti Jakarta harus menunggu macet total untuk memikirkan membangun rel dan sistem MRT dan hari ini ibu kota kita itu seperti tidak mau bergerak maju.

Naifnya, secara umum, mental para birokrat kita adalah mengurus kepentingan pribadi daripada kepentingan publik yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka seolah tidak memikirkan bagaimana sebuah kota bisa maju dan modern dengan transportasi publik yang canggih, misalnya dengan tramway, metro dan segala teknologi transportasi yang dikembangkan kota-kota di negara maju. Mereka malah sibuk berlomba-lomba menambah koleksi mobil pribadi.

Di satu sisi, rakyat kadang dituding karena tidak menggunakan Transjogja dan memilih kendaraan pribadi berupa motor atau mobil. Sehingga intensitas kemacetan di Jogja sejak 2013 ke atas sudah di luar batas. Mungkin dalam 10 tahun ke depan--jika transportasi publik tidak segera direformasi--Jogja akan menyusul menjadi kota padat yang dibiarkan mudarat tanpa solusi.

Jika saya bertanya (atau mungkin ini menjadi pertanyaan bersama) selain Transjogja adakah transportasi publik kota yang efektif, ekonomis dan nyaman sebagai alternatif? Untuk itu, saya rela bermimpi semoga ada tramway, metro...

(Bernando J Sujibto MSc. Penikmat kota, alumnus Master Sociology Selcuk University, Turki. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 14 Februari 2018)