Menelisik Sejarah Societiet Mangkunegaran

ANGKAT topi buat segenap awak media Kedaulatan Rakyat. Dalam acara peringatan Hari Pers Nasional di Padang, ‘koran revolusi’ ini menyabet dua penghargaan: ‘Indonesia Print Media Award’ dan ‘the best newspaper’ regional Jawa (7/2). Perayaan itu dihadiri barisan jurnalis dan Presiden Joko Widodo. Tonggak sejarah penetapan Hari Pers Nasional ialah lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia tahun 1946 di gedung Societiet Mangkunegaran atau Sasanasuka, embrio Monumen Pers Nasional. Ada sepotong kisah terkunci dari laci sejarah, yakni bagaimana riwayat pembangunan ruang publik itu?

Di masa silam, societeit menjadi salah satu unsur penanda kemajuan kota. Komunitas sosial menengah ke atas membutuhkan sarana itu untuk berekspresi, melunasi kebutuhan akan hiburan, dan berinteraksi sosial. Petinggi Mangkunegaran terdorong untuk membangun gedung itu. Dalam mewujudkan gagasan pembangunan gedung societeit, Gusti Mangkunegara VII (1916-1944) meminta bantuan Aboekasan Atmodirono yang sama-sama menjadi pengurus Boedi Oetomo. Aboekasan tercatat sebagai tokoh penting dan teknisi bumi putera pertama di Hindia Belanda. Dia memupuk kemampuan bidang teknik di Koningin Wilhelminaschool di Batavia.

Dari sudut pandang arsitektur, bangunan garapannya ini menakjubkan, mengejawantahkan berbagai motif khas budaya Timur. Memang, Aboekasan begitu cinta terhadap kebudayaan Jawa. Hal itu tecermin dalam caranya berpakaian, selain dalam karyanya. Semasa hidup, lelaki ini tak pernah mengenakan busana Eropa, melainkan setia berpakaian Jawa.

Diresmikan

Sesungguhnya, perkumpulan Societeit Mangkunegaran telah terbentuk sebelum bangunan itu berdiri tahun 1918. Para anggota biasanya mengadakan pertemuan di rumah kontrakan. Fakta tersebut penulis dapatkan dari keterangan Yasawidagda tahun 1917: “wanci sonten koela mantoek saking moelang Normaalcursus, wonten ing margi prapatan kepethoek kalijan Hardjasoepoetran. Ladjeng semadhosan mangke djam 7 koela dipoen-ampiri sasarengan parepatan Sos MN. Nalika semanten taksih njewa grija kilen Toemenggoengan.”

Bangunan karya Aboekasan ini mulai dipakai dan diresmikan pada 31 Juni 1918. Fakta ini penulis temukan dalam koran Djawi Hisworo yang mengangkat berita bertajuk ‘Perpindahan Rumah Soos’. Dikabarkan, pada malam hari telah dilakukan pemindahan rumah Societeit Mangkunegaran dari soos lama ke rumah soos yang baru. Letak rumah tersebut berada di ujung jalan perempatan ke arah belakang Tumenggungan (Kepatihan Mangkunegaran). Perpindahan ini disaksikan sekitar 200 orang. Selain diikuti beberapa anggota soos, terlihat juga para tamu priyayi bumi putera, putri-putri, dan bangsa Tionghoa. Hadir pula sekelompok murid perempuan dari sekolahan memakai busana noni. Malam itu, suasana gayeng dengan hiburan musik dan merdangga (gamelan) komplit. Pada pukul 21.00 datang satu perkumpulan Strijorkest sumbangan dari keraton.

Kemurahan

Acara dimulai pada pukul 19.00. Presiden dari perserikatan Societeit Mangkunegaran memulai sambutannya dengan singkat. Tanpa tedheng aling-aling, mengemukakan kepindahan rumah soos berkat kemurahan pembesar Mangkunegaran. Penguasa Mangkunegaran ini telah berkenan memberi bantuan mendirikan rumah soos yang menelan biaya berpuluh ribu rupiah. “Karena itu, anggota S.M.N wajib mempersembahkan beribu ucapan terima kasih kepada Beschermheer!” ucap Presiden perserikatan Societeit Mangkunegaran.

Selepas sambutan dari presiden, diringi sambutan sorak sorai para hadirin dengan musik yang riuh, untuk menyatakan kegembiraan dari para anggota dan tamu-tamu yang hadir. Pengunjung kemudian duduk dan bersuka ria dengan leluasa, sambil mendengarkan musik dan gamelan yang dipukul secara bergantian diiringi dengan lagu yang merdu, dan apa pula yang bermain omber. Pukul 21.00, satu perangkat Strijorket sudah datang lalu dibunyikan, disertai 3 orang perempuan muda yang menyanyikan lagu Belanda, bertukar dengan bunyi merdangga lagu Jawa. “Hingga lepas tengah malam, perjamuan baru selesai dengan selamat. Hiduplah Societeit Mangkunegaran!” tulis jurnalis Djawi Hisworo.

Demikianlah penggal sejarah ruang publik yang di kemudian hari dipakai barisan jurnalis di Indonesia berkumpul dan berupaya mempertahankan kemerdekaan. Tapi sayang, sejarah penting ini tak banyak diketahui publik. Bahkan, pegawai Monumen Pers Nasional juga geleng kepala sewaktu ditanya riwayat Societeit Mangkunegaran berikut kegiatannya, dan juga siapa sejatinya Aboekasan Atmodirono. Demi memperkaya pengetahuan sejarah pers Indonesia dan menjawab rasa penasaran publik, mestinya tergerak melakukan riset tersebut. Ingat, Monumen Pers Nasional bukan gudang koran!

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 13 Februari 2018)

Tulis Komentar Anda