Jateng Editor : Agus Sigit Selasa, 13 Februari 2018 / 14:32 WIB

Hantu Imlek Gentayangan di Jembatan Pasar Gedhe, Ini yang Dilakukan Satpol PP

SOLO (KRjogja.com) - Aksi komunitas seni karakter yang mengenakan kostum horor, diantaranya berupa pocong, pada keramaian Imlek, dihentikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), menyusul pengaduan masyarakat yang merasa tidak nyaman, kendati pula banyak orang memanfaatkannya sebagai mitra selfie. Sekelompok pemuda yang diketahui berasal dari Jakarta dan Sukoharjo itu, juga menyediakan kotak sumbangan sukarela.

Kepala Bidang (Kabid) Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, Satpol PP, Agus Sis, menjawab wartawan, di kantornya, Selasa (13/2), mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir memang banyak warga mengadukan penampilan kelompok berkostum horor pada keramaian Imlek di kawasan Pasar Gedhe. Alasannya, anak-anak merasa takut, sehingga cukup mengganggu kenyamanan.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Dari hasil pendataan, komunitas seni karakter yang setiap malam 'bergentayangan' di bawah deretan lampion, persisnya di jembatan Pasar Gedhe, tercatat sembilan orang, masing-masing 4 orang dari Jakarta da 5 orang dari Bekonang, Sukoharjo. "Mereka sudah kami panggil ke kantor Satpol PP untuk diberikan pembinaan, serta menandatangani surat pernyataan tak mengulang lagi aksinya," ujar Agus.

Selain menertibkan aksi hantu pocong, tambahnya, Satpol PP juga menyisir Pedagang Kaki Lima (PKL) yang beroperasi di sekitar jembatan Pasar Gedhe, serta pengamen dan pengemis. Tiga pengamen dan satu pengemis juga diberikan pembinaan serta meninggalkan lokasi keramaian Imlek. Demikian pula para PKL diminta berpindah ke lokasi lain yang sudah disiapkan, untuk mengurangi kesemrawutan.

Di sisi lain, Supriyanto, salah satu anggota komunitas seni karakter mengungkapkan, penampilan berkostum hantu sebenarnya sekadar ikut menyebarkan Imlek di Solo. Setiap malam, kostum yang dikenakan selalu berbeda, agar pengunjung tak bosan. Atraksi serupa sudah dilakukan sejak dua tahun silam pada lokasi yang sama, dan selama ini berlangsung biasa-saja.

Jika kemudian tahun ini Satpol-PP melarang penampilan berkostum horor, Supriyanto mengaku tak bisa berbuat banyak. Mereka beromitmen untuk menghentikan atraksi horor, sembari mencari alternatif kostum lain yang dirasa lebih menghibur masyarakat. Hanya saja, sejauh ini mereka belum menemukan konsep kostum unik yang mampu memikat sekaligus menghibur serta tak membuat takut. (Hut)