Cengkeraman Kompetisi

ALUR perjalanan sejarah dunia bergerak ke modernitas. Perjalanan itu menggiring kita untuk juga bergerak menjadi modern. Istilah lainnya bergerak maju ke depan. Masa lalu dianggap ketinggalan, jadul, zaman old. Yang kurang mendapat perhatian, sekarang dan masa depan seperti apa yang kita hidup di dalamnya.

Hal awal yang perlu diketahui yakni modernisme berjalan paralel dengan kapitalisme. Kapitalisme melahirkan modernisme, tetapi modernisme justru menguatkan cengkeraman kapitalisme. Cukup banyak simbiosis nilai antara praktik modernisme dan kapitalisme. Yang paling signifikan adalah simbiosis semangat untuk memonopoli dunia dari modernisme dan semangat bekerja keras untuk sukses dari kapitalisme.

Simbiosis tersebut melahirkan apa yang kemudian disebut sebagai kompetisi, budaya kompetisi. Dikehendaki atau tidak, kita berpacu untuk bersaing. Kita tersobsesi dengan peringkat, dengan keunggulan. Kita mengejar nilai tertinggi. Kita berusaha, dengan berbagai cara, untuk juara. Kita berikhtiar untuk menang. Yang sukses adalah yang menang. Kita tidak dipersiapkan bahwa tujuan hidup bukan persoalan menang dan kalah.

Dari dulu saya sudah curiga bahwa cukup banyak dongeng yang tidak asli buatan kita. Akan tetapi, dongeng itu buatan kolonial, yang membawa semangat kapitalisme dan modernisme. Salah satu dongeng yang saya maksud adalah lomba pacu lari antara siput dan kancil. Dalam berbagai cara, yang kita tahu siput tidak bisa berlari, akhirnya memenangkan kompetisi. Ini pelajaran yang masih didongengkan hingga kini.

Saya tidak menolak bahwa kita perlu berbuat yang terbaik. Berbuat terbaik bukan berarti dalam rangka memenangkan sebuah perkara atau pertandingan. Berbuat baik adalah suatu orientasi hidup dalam konsep etik dan moral, yang tidak bisa diperingkat sebagai satu kemenangan. Bahkan, bisa jadi berbuat baik tersebut tidak langsung bisa dirasakan sebagai perbuatan baik. Juga belum tentu menghasilkan sesuatu yang secara empirik bisa dilihat.

Namun, kooptasi kapitalisme telah mengubah orientasi hidup kita. Kita dipacu untuk berhasil dan berjaya dalam kompetisi. Apa saja dikompetisikan. Siapa saja yang pintar bersiasat, mau mengikuti aturan mainnya, dengan sedikit faktor untung-untungan, maka kita akan menang. Dalam kapitalisme kasino seperti ini, kita dikondisikan untuk berhadapan atau bermusuhan dengan orang lain. Kita mengalahkan atau dikalahkan. Kita membunuh atau dibunuh.

Itulah sebabnya, hidup menjadi sebuah distopia menegangkan. Kita tak sempat menikmati ketentraman dan kebahagiaan. Karena begitu kita mencoba menikmati keteteraman dan kebahagiaan, maka orang lain mengincar kita untuk segera mengalahkan kita. Kita tidak boleh lena. Kita harus terus menerus bekerja dan berusaha mempertahankan kemenangan. Dan kita tidak tahu kapan itu berhenti. Kecuali, tiba-tiba ada di antara kita meninggal.

Memang, dalam mekanisme politik dan ruang kekuasaan, ada semacam persaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Hal itu pun dalam filosofi budaya politik kita ada yang disebut dengan musyawarah. Dalam praktiknya, banyak suksesi kekuasaan sebagian besar melewati pertarungan yang berdarah. Mekanisme politik kita banyak diselesaikan secara kekerasan, bukan secara musyawarah, bukan secara kultural.

Artinya, budaya kompetisi seperti dijelaskan di atas sebetulnya bertentangan dengan budaya kita. Sama sekali tidak ada musyawarah di dalamnya. Bahkan dalam praktiknya, kita pun sulit bermusyawarah. Karena dalam bermusyawarah yang kita kedepankan bukan pengertian saling menghormati, saling memahami, bahkan saling memberi. Yang kita kedepankan adalah rencana untuk menguasai. Rencana untuk memenangkan suatu dialog. Realisasi musyawarah adalah yang menang dianggap benar, yang kalah dianggap salah.

Dengan demikian, saat ini kita mengalami situasi sulit untuk tidak terjebak dalam kompetisi kalah menang. Padahal, dalam kebudayaan kita dikenal konsep kehidupan yang disebut sebagai budaya bersama-sama, bergotong royong dalam satu irama yang harmoni. Konsep ini memang enak dan dengan mudah dikatakan, tetapi dalam praktiknya sulit direalisasikan. Inilah tantangan sebenarnya.

Satu hal yang bisa dipakai adalah filosofi mendasar dalam ungkapan berlomba-lomba menuju kebaikan. Bahwa kehidupan bukan hanya sesuatu yang duniawi. Hanya kekuatan spritual yang bisa melawan budaya kompetisi. Hanya spiritualitas kita yang bisa memberikan keseimbangan dan harmonisasi dunia dan akhirat. Cuma itu, tidak ada yang lain.

(Dr Aprinus Salam. Penulis adalah Budayawan dan Akademisi di UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 12 Februari 2018)

Tulis Komentar Anda