Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 11 Februari 2018 / 10:07 WIB

Bedah Buku 'Muhammadiyah dan Peradaban' di Unimus

SEMARANG,KRJOGJA.comb- Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar diskusi dan bedah buku 'Etika Muhammadiyah dan Peradaban' karya Prof Dr H Zakiyuddin Baidhawy MAg (Guru Besar Ilmu Agama Islam IAIN Salatiga dan Wakil Ketua MKK PW Muhammadiyah Jateng) di kampus setempat, Kamis (8/2). 

Tampil pula sebagai pembicara pendamping Ketua PW Muhammadiyah Jateng Drs H Tafsir MAg. Direktur LSIK Unimus Drs Rohmat Suprapto MAg  menyatakan perlunya sivitas Unimus memahami pemikiran para tokoh dan pemikir muda Muhammadiyah. Para tokoh ini lewat sudut pandang atau sisi lain tetapi masih tetap sejalan dengan pemikiran pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Prof Dr H Zakiyuddin Baidhawy MAg pada paparannya menyatakan bukunya merupakan cara lain dalam memahami etos dan spirit peradaban Muhammadiyah yang digulirkan abad 20 lalu. Basis teologis Muhammadiyah di antaranya kritis dan peduli lingkungan atau sosial (focus ke pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan kebodohan masyarakat saat itu) yang menjadikan amal usaha muhammadiyah focus di pendidikan, kesehatan dan amal usaha ekonomi umat.

"Jika umat tidak peduli pada kehidupan masyarakatnya di bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan lain sebagainya maka celakalah umat tersebut. KH Ahmad Dahlan sebagai contoh tokoh yang tidak suka berwacana tetapi langsung bergerak, bertindak dan mendirikan berbagai amal usaha untuk perbaikan kondisi masyarakat yang saat itu serba susah dan sulit di hampir semua bidang. Ini spirit dan etos KH Ahmad Dahlan atau spirit Muhammadiyah terhadap peradaban umat manusia" ujar Prof Zakiyuddin.

Ketua PW Muhammadiyah Drs Tafsir MAg menyatakan beberapa karakter KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di antaranya  KH Ahmad Dahlan tidak suka debat atau wacana tetapi langsung menangani persoalan yang ada, juga dalam mengupayakan solusi suatu masalah atau mendirikan amal usaha sifatnya lambat tetapi pasti.

"Dari kecil, tidak langsung berdiri besar, tetapi insya allah pasti jalan. Misalnya pendirian sekolah, pendirian rumah sakit biasanya dimulai dari PKU lalu berkembang dan akhirnya jadi rumah sakit. Semua diawali dari bawah dan butuh proses, itu yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Membangun pondasi dulu baru membesarkannya, kalau langsung besar takutnya malah ambruk karena pondasi tidak kuat" ujar Tafsir. (sgi)