KOLOM Editor : Ivan Aditya Sabtu, 10 Februari 2018 / 09:57 WIB

Erdogan

PERISTIWA bersejarah telah ditorehkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena menjadi presiden pertama Turki yang berkunjung ke Vatikan, setelah vakum 59 tahun (KR/6/2). Pertemuan ini penting. Salah satu pembicaraannya menyangkut status Yerusalem yang diklaim secara sepihak sebagai ibukota Israel.

Dukungan Paus Fransiskus terkait status Yerusalem ini menjadi modal penting bagi Erdogan untuk menolak deklarasi Presiden AS Donald Trump 7 Desember 2017 yang akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Karena Paus Fransiskus merupakan tokoh Katolik yang memiliki pengaruh besar di dunia. Selain itu, Vatikan juga memiliki ikatan emosional dengan Yerusalem karena menurut mandate resolusi PBB dan hukum internasional, Yerusalem adalah milik tiga agama yakni Islam, Kristen dan Yahudi.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Penolakan keras dari Erdogan, Paus Fransiskus juga 128 negara dunia. Keputusan itu dianggap menghancurkan proses perdamaian Palestina dan Israel. Upaya Erdogan untuk mendorong Palestina menjadi negara yang berdaulat penuh tidak diragukan lagi. Tidak sekadar mengecam keputusan tersebut, Erdogan mau menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa OKI (Organisasi Kerja sama Islam) yang diselenggarakan 13 Desember 2017.

Salah satu hasil dari KTT Luar Biasa OKI adalah solusi dua negara merupakan satusatunya solusi yang dapat diterima dan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. Implementasi solusi ini akan diperjuangkan oleh negara-negara anggota OKI agar bisa terwujud dengan baik. Dalam hal ini tokoh yang secara intens menyuarakan penolakan keras atas Yerusalem sebagai ibukota Israel, salah satunya adalah Erdogan. Ada dua hal utama yang perlu kita cermati terkait kampanye Erdogan terkait Yerusalem.

Pertama, pemimpin dunia Islam. Pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel pada tanggal 7 Desember telah menyulut kemarahan dunia. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam mengutuk tindakan Trump yang dianggap telah mematikan proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Erdogan, yang merupakan salah satu pemain kunci dalam OKI kemudian mengontak sejumlah kepala negara seperti Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk diajak satu suara menentang keputusan kontroversial Trump.

Dalam konteks ini, sebetulnya Erdogan ingin menunjukkan pengaruhnya di dunia Islam khususnya mengenai masa kejayaan Turki Usmani (1301-1922). Kemunculan Erdogan tidak bisa dilepaskan dari lemahnya negara-negara Arab dalam merespons masalah Yerusalem. Negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) adalah contoh tiga negara yang tidak terlalu bulat menentang kebijkan Trump atas Yerusalem. Hal ini tampak dalam KTT Luar Biasa OKI, ketiga negara tersebut hanya mengirimkan delegasi selevel menteri untuk pertemuan darurat membahas isu krusial terkait Yerusalem. Ketidakhadiran ketiga kepala negara tersebut bisa dipahami karena mereka memiliki keretakan hubungan dengan Turki pascakrisis Qatar pada pertengahan bulan Juni 2017.

Kedua, efektivitas kampanye Erdogan. Keretakan hubungan antarnegara-negara anggota OKI betul-betul sangat dipahami oleh Trump. Perebutan pengaruh antarblok Arab yang dipimpin Arab Saudi atas Iran di kasus Yaman dan Suriah merupakan fakta konkret bahwa Iran dan Saudi ingin menjadi yang terkuat di Timur Tengah. Permusuhan kedua kutub inilah yang kemudian menjadi salah satu pintu masuk mengapa Trump berani membuat keputusan kontroversial terkait Yerusalem. Ibaratnya, ketika pemain-pemain kunci di Timur Tengah saling bertikai maka mereka tidak akan mampu mengalahkan AS. Ironisnya, negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap AS.

Melihat situasi yang rumit di internal OKI, maka kampanye penolakan terhadap keputusan Trump terkait Yerusalem yang dilakukan oleh Erdogan menjadi kurang efektif. Hal ini karena kekuatan OKI masih belum kuat untuk mempengaruhi kebijakan Trump terkait Yerusalem. Tidak hanya itu, Erdogan juga disibukkan dengan persoalan internal domestik Turki khususnya mengenai etnis Kurdi yang terus berusaha meminta kedaulatan penuh di Turki.

Bisa disimpulkan bahwa keretakan di internal OKI sedikit banyak akan menghambat upaya Erdogan yang merupakan representasi dari OKI untuk memperjuangkan Palestina.

(Fatkurrohman MSi. Akademisi Universitas Gadjah Mada. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 10 Februari 2018)