Menjadikan Yogyakarta Bebas ’Klithih’

PERILAKU menyimpang berupa klithih masih belum lenyap dari Yogyakarta. Dalam dua bulan pertama tahun 2018, sudah ada 2 kejadian yang berkaitan dengan perilaku klithih. Pada 4 Januari 2018, seorang pengendara mobil yang sedang melintas di jalan Sembuh Kidul Sidomulyo, Sleman, terkena lemparan batu seberat 2 kg. Pelakunya adalah dua orang yang masih berstatus pelajar SMA. Korban akhirnya meninggal dunia akibat luka parah akibat batu yang menghantamnya. Polisi berhasil meringkus pelaku. Berdasarkan keterangan aparat, aksi dilakukan dalam pengaruh alkohol dan obat penenang. Jadi antara korban dan pelaku sama sekali tidak saling mengenal. Kejadian ini menunjukkan bahwa cah klithih bisa memakan korban siapapun juga.

Pada awal bulan ini, tepatnya 2 Februari 2018, seorang satpam menjadi korban sabetan senjata tajam cah klithih. Saat melintasi di Jalan Pundong, Tirtodadi, Sleman, tiba-tiba dirinya diserang orang yang tidak dikenal. Akibatnya, lengan kanannya mengalami luka bacok yang cukup dalam (Merapi, 3/2) Sampai tulisan ini dibuat, pelaku masih belum dapat diamankan oleh aparat penegak hukum.

Komprehensif

Beragam teror klithih ini membutuhkan penanganan segera dan komprehensif. Strategi penanggulangan klithih harus dilakukan lintas sektoral sehingga mampu menjangkau dasar permasalahannya. Baik menyangkut aspek pendidikan, ekonomi, hukum, dan aspek lainnya. Sebab jika hanya menggunakan satu pendekatan saja, solusi yang dihasilkan akan bersifat parsial. Akibatnya manfaat yang didapatkan tidak dapat bertahan lama.

Dilihat dari perspektif pendidikan, institusi sekolah perlu untuk meningkatkan kontrol terhadap siswanya. Sekolah pasti memiliki catatan terhadap siswa-siswa yang dianggap berpotensi melakukan klithih. Misalnya siapa saja siswa yang sering berbuat onar, pernah kedapatan mengonsumsi obat-obatan terlarang dan miras, berperangai negatif dan sebagainya. Terhadap mereka, sekolah memiliki tanggung jawab mengarahkan agar siswa tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum. Sementara terhadap siswa yang pernah terlibat klithih, perlu dilakukan program deradikalisasi agar perilaku negatifnya tidak menyebar. Sebab jika tidak, pelaku dapat menularkan perilaku buruknya kepada temantemannya.

Selain sekolah, keluarga wajib mendidik anggotanya agar tidak nakal. Sebab sebaik apapun nilai moral yang diajarkan di sekolah, jika tidak ditindaklanjuti dalam lingkup keluarga, nilai-nilai kebajikan tersebut akan menghilang begitu saja.

Faktor ekonomi juga perlu digarisbawahi. Harus diakui, cah klithih tidak hanya berasal dari keluarga yang kekurangan. Banyak juga pelaku yang secara ekonomi berkecukupan. Bagi pelaku klithih yang melakukan aksinya akibat dorongan ekonomi, maka patut dipikirkan bagaimana agar masalah ekonominya (keluarganya) dapat terselesaikan. Misalnya memberikan beasiswa, pekerjaan yang layak untuk orang tuanya atau yang lain.

Infrastruktur

Hal lain yang belum banyak dibahas terkait perilaku klithih adalah infrastruktur. Padahal masalah ini cukup berperan menekan tindakan kejahatan. Beberapa serangan klithih dilakukan di jalan yang cukup sepi dan gelap. Artinya infrastruktur penerangan jalan masih minim. Jika kondisi jalan terang dan terkontrol dengan baik, maka bisa sedikit menurunkan keinginan berbuat jahat. Kita semua bertanggungjawab untuk mengatasi fenomena klithih. Seluruh elemen masyarakat Yogyakarta harus bahu-membahu memberikan kontribusi agar klithih tidak ada lagi di wilayah DIY. Jika masing-masing pihak saling melempar tanggung jawab dan enggan mengatasinya, maka melenyapkan klithih hanya sekadar impian. Maka, jika warga masyarakat mengetahui daerahnya rawan klithih akibat penerangan jalan yang kurang, maka tidak perlu menunggu pemerintah untuk mengatasinya. Masyarakat bisa menggalang dana secara swadaya untuk infrastruktur penerangan jalan yang sederhana.

Contoh lain, polisi telah memiliki tim patroli untuk mengatasi kejahatan, tetapi tentu saja jumlahnya terbatas. Hanya mengandalkan aparat keamanan untuk menciptakan kenyamanan adalah hal sulit. Masyarakat pun dapat berperan aktif. Seperti mengintensifkan siskamling khususnya pada masyarakat yang rumahnya berada di pinggir jalan dan rawan kejahatan. Semoga perilaku klitih dapat hilang segera dari Yogyakarta.

(Rachmanto. Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Orwil Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 8 Februari 2018)

Tulis Komentar Anda