Empat Pilar Pendidikan UNESCO

DUNIA pendidikan di Indonesia awal Januari 2018 digemparkan oleh penganiayaan seorang pelajar di Sampang yang mengakibatkan guru kehilangan nyawa. Sebelumnya, Mei 2016 seorang mahasiswa di Medan menganiaya dosen Nurain Lubis (63) hingga tewas karena mahasiswa semester VI FKIP kerap diberi peringatan karena tidak serius mengikuti kuliah.

Oktober 2017 lalu Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 7 Pelaihari Suprihatin harus dirawat di RSUD Hadi Boejasin Pelaihari karena dianiaya orangtua murid. Diduga orangtua tidak terima anaknya ditegur tidak menggenakan sepatu. Sebelumnya, Agustus 2016 Guru Dasrul yang menegur siswa yang tidak membawa buku pelajaran malah ditantang berkelahi. Siswa juga menelepon orangtua dan kemudian bersama-sama mengeroyok Guru SMKN 2 Makassar.

Peristiwa kekerasan di sekolah, relatif banyak dijumpai. Peristiwa di muka hanyalah sebagian kecil yang ‘tercium’ media massa. Artinya, jika mau mengritisi perihal kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan, saatnya sistem pendidikan ditinjau kembali.

Empat Pilar

Harus diakui selama ini pendidikan di Indonesia baru sebatas retorika teoretis dalam mengamalkan empat pilar pendidikan sebagaimana diamanatkan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yaitu cabang organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa yang mengatur bidang pendidikan, keilmuan, budaya dan komunikasi. Empat pilar tersebut adalah learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together yang oleh berbagai bangsa lain telah diamalkan secara konsisten dan konsekuen. Bagaimana dengan kita, apakah semua institusi pendidikan di Indonesia sudah mengamalkannya?

Empat pilar sebagaimana tersebut di atas tentunya bukan hal yang bisa disepelekan implementasinya, mengingat telah disepakati bersama dalam suatu konvensi internasional. Mengacu pada empat pilar tersebut di atas, pendidikan mestinya bukan hanya mampu mengarahkan peserta didik pada penguasaan keilmuan (knowing) dan implementasinya (doing). Seharusnya juga mampu membentuk manusia yang berkepribadian normatif (being) serta mampu beradaptasi dan bertoleransi di manapun, di lingkungan manapun mereka berpijak atau berada (living together). Hasil pendidikan di Indonesia secara nyata masih menunjukkan kelemahan dalam menghasilkan lulusan yang memiliki budi pekerti luhur yang mampu menghormati orang lain. Terkadang hak-hak orang lain pun diabaikan.

Banyak contoh yang terjadi di sekitar kita yang biasa kita alami sehari-hari, misalnya dalam berlalu-lintas, berkendara, merokok di depan umum, meludah di jalan saat berkendara, membuang sampah sembarangan. Juga mencaci-maki orang lain secara tidak proporsional, mengeraskan knalpot kendaraan, membunyikan klakson keras-keras saat jalanan macet. Semua kejadian ini tidak pernah terjadi di banyak kota di mancanegara. Lalu apakah yang salah dengan pendidikan kita?

Beberapa Faktor

Hemat penulis, permasalahan pendidikan di negara ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, sistem pendidikan masih menitikberatkan pada aspek knowing dan doing dan belum secara konsisten dan konsekuen berfokus pada penanaman pilar aspek being (sikap atau perilaku normatif) dan living together (menyesuaikan diri dengan lingkungan atau bertoleransi) dalam lingkup kependidikan di Indonesia. Kedua, sistem pendidikan di Indonesia selama ini belum secara serius menyentuh dua pilar penanggung jawab pendidikan, yang seharusnya ditanggung oleh keluarga (pendidikan informal) sebagai basisnya, masyarakat (pendidikan non-formal) dan sekolah (pendidikan formal).

Ketiga, mindset sebagian masyarakatdi Indonesia yang masih menilai bahwa perilaku lulusan identik dengan hasil pendidikan formal. Keempat, harus diakui bahwa di dalam proses pendidikan kita, masih banyak terjadi bias atau penyimpangan sebagai akibat dari kurang profesionalnya sumber daya institusi pendidikan di berbagai tataran. Kelima, terkesan adanya pembiaran terhadap mal-administrasi akreditasi institusi sehingga menghasilkan mutu pendidikan yang bias. Keenam, masih banyak orangtua yang kurang peduli terhadap perilaku anggota keluarganya.

Penulis menyadari, solusi permasalahan tersebut di atas sangat tidak mudah dilakukan seperti membalik tangan. Namun demikian, tentu saja ini menjadi tugas kita bersama untuk membenahi bukan hanya mutu namun juga tentang cara berperilaku dalam kehidupan bersama di setiap lingkungan kehidupan. Paling tidak, masing-masing elemen ketiga pilar yaitu keluarga, institusi pendidikan dan masyarakat saling bahu membahu secara bertanggung jawab dalam rangka mendidik generasi penerus bangsa.

(Dr Hermayawati. Dosen Kopertis Wilayah V, Dpk pada Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 8 Februari 2018)

Tulis Komentar Anda