KOLOM Editor : Ivan Aditya Kamis, 08 Februari 2018 / 03:57 WIB

Tantangan Pendidikan Kejuruan di Era Industri 4.0

”Pemimpin Perguruan Tinggi wajib mendukung inovasi untuk menghadapi perubahan global dan memenuhi kebutuhan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif, inovatif, dan kompetitifî (Joko Widodo, 2017).

PIDATO Presiden RI di atas dikutip Menristekdikti sebagai entry point saat paparan Kebijakan Nasional Pendidikan Tinggi Menghadapi Revolusi Industri 4.0 bulan Januari tahun ini. Pernyataan yang sangat tepat. Mengingat ketenagakerjaan Indonesia per Agustus 2017, berdasar data BPS sebanyak 121,02 juta orang penduduk bekerja dan masih terdapat 7,04 juta orang menganggur.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Dibandingkan kondisi setahun yang lalu, tingkat pengangguran terbuka pada tingkat pendidikan Sarjana, Diploma, dan SMK mengalami peningkatan. Artinya, ada penawaran tenaga kerja yang tidak terserap yang jumlahnya cenderung meningkat. Jika upaya revitalisasi pendidikan kejuruan yang telah dicanangkan pemerintah tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka angka pengangguran akan semakin tinggi.

Pendidikan

Kejuruan Perkembangan industri begitu pesat, di mana lajunya sering tidak mampu diikuti pendidikan kejuruan dari sisi prasarana, sarana, teknologi, kurikulum, maupun kompetensi gurunya. Guru sebagai pemegang kunci keberhasilan pendidikan, tidak semuanya mampu mengembangkan diri dengan pengetahuan dan keterampilan terkini. Akibatnya, lulusan pendidikan kejuruan mayoritas masih bersifat siap latih, belum siap kerja, dengan daya adaptabilitas yang relatif rendah. Jika keadaan ini berkelanjutan, maka kondisi ketenagakerjaan kita akan semakin terpuruk. Terlebih di era revolusi industri 4.0 sekarang ini, di mana digitalisasi dan otomatisasi diterapkan di segala bidang.

Jika tidak diantisipasi dengan tepat, kita akan kewalahan menghadapi masifnya tenaga kerja ahli dari luar negeri. Belum lagi hadirnya robot-robot yang memiliki kecerdasan buatan yang dapat menggantikan beberapa jenis pekerjaan manusia. Untuk menyikapi hal itu, inovasi dan investasi dalam pendidikan kejuruan perlu menjadi prioritas. Demikian pula Lembaga Pendidikan Tenaga Kejuruan (LPTK) penghasil guru kejuruan harus terus berbenah diri.

Profil tenaga kerja ‘zaman now’ yang sesuai tuntutan perkembangan sektor industri, hanya dapat dihasilkan dari lulusan pendidikan yang berkualitas dengan model pembelajaran yang mengadopsi kultur kerja industri itu sendiri. Tony Wagner (2008) dalam buku The Global Achievement Gap menulis tujuh modal dasar yang harus dimiliki semua siswa agar mampu berperan dengan baik di masa depan. Modal dasar tersebut di antaranya adalah kemampun pemecahan masalah, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, inisiatif dan kewirausahaan, komunikasi yang efektif, mengakses informasi, serta rasa keingintahuan. Modal dasar tersebut harus terus diupayakan oleh pendidikan kejuruan agar lulusan yang dihasilkan mampu mengikuti laju perkembangan industri.

Sistem serta program pendidikan kejuruan perlu disesuaikan agar relevan dengan Revolusi Industri 4.0, melalui rekonstruksi kurikulum yang dapat memberikan siswa sekolah kejuruan: (1) keterampilan/kompetensi yang lebih luas dan baru, dan (2) menggunakan format baru dalam proses pembelajaran.

Dua Alternatif

Struktur kurikulum pendidikan kejuruan harus dibuat sesederhana mungkin, namun tetap mengcover aspek hard skills dan soft skills siswa. Sebagai alternatif, beberapa mata pelajaran berikut menjadi pilihan, yakni dasar-dasar komunikasi, matematika terapan, komputasi, bahasa asing/Inggris, Project Work and Enterpreneurship, dan praktik kejuruan. Inovasi dalam pembelajaran juga perlu dilakukan. Strategi pembelajaran di sekolah harus menggunakan contextual teaching & learning dengan pembelajaran aktif. Jika tempat pendidikan dilaksanakan di dunia kerja/industri (teaching factory), maka dapat menggunakan learning by doing diikuti evaluasi performance test.

Pembelajaran di sekolah harus mampu memanfaatkan teknologi dengan baik melalui pembelajaran digital, yakni hybrid/blended learning. Bahkan, beberapa mata pelajaran dapat ditempuh secara full online learning. Lulusan pendidikan kejuruan harus dibekali dengan sertifikat kompetensi teknis, sebagai pendamping ijazah.

Setidaknya ada dua alternatif model pendidikan kejuruan yang dapat ditawarkan untuk memadukan aspek hard skills dan soft skills secara komprehensif. (1) Pembelajaran pada aspek soft skills, dasar-dasar kejuruan, dan kewirausahaan dilaksanakan di sekolah, sedangkan pembelajaran aspek hard skills dilaksanakan di industri. (2) Pembelajaran aspek soft skills dilaksanakan di sekolah, sementara pendidikan aspek hard skills, dasar-dasar kejuruan, dan kewirausahaan dilaksanakan sambil praktik kerja di teaching factory.

(Dr Widarto MPd. Dekan Fakultas Teknik UNY. Naskah kerja sama SKH Kedaulatan RakyatFT UNY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 7 Februari 2018)