KOLOM Editor : Agung Purwandono Rabu, 07 Februari 2018 / 14:58 WIB

Rahasia "Parfum" Para Penulis Produktif

PASTI Anda heran bagaimana para penulis produktif itu tidak pernah mengalami yang namanya “tiga kehabisan”, yaitu kehabisan ide, kehabisan kata-kata, dan kehabisan kesabaran. Mereka tetap menulis dengan semangat dan idealismenya di luar adanya imbalan bagi mereka.

Lihatlah para kolumnis di surat kabar harian yang setiap minggu harus menyiapkan satu tulisan. Sepintas tampak ringan, tetapi jika didalami, wow, betapa sulitnya. Begitu pula yang terjadi pada saya, harus mengisi kolom ini dua kali seminggu.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Kadang-kadang mesti tertatih-tatih menuju tenggat (deadline) begitu “tiga kehabisan” tadi mengancam. Untunglah ada “parfum” yang menyelamatkan saya. Parfum?

Apa yang paling tidak ingin dihadapi oleh para penulis adalah kehabisan ide atau gagasan. Kalau soal ini, saya punya resep sederhana. Pertama, banyak membaca. Tentu saja membaca, tetapi bukan sekadar membaca secara harfiah buku-buku atau bahan bacaan lain. Membaca alam raya juga termasuk di dalamnya.

Kedua, adalah banyak berjalan-jalan. Artinya, seorang penulis harus sering bepergian keluar rumah atau kantornya. Untuk apa? Untuk menemukan dan mengikat makna dari pancaindranya. Ia akan efektif menggunakan matanya, telinganya, lidahnya, hidungnya, serta tangan dan kakinya. Sebagai catatan, berjalan-jalan itu tidak harus plesir ke tempat wisata.

Ketiga, adalah banyak bersilaturahmi. Bertemu banyak orang dari berbagai kalangan akan memberinya impresi tentang watak dan sikap orang-orang di sekeliling kita. Hal itu akan mengayakan perbendaharaan makna seorang penulis tentang manusia, bahkan juga tentang binatang-binatang yang turut ditemuinya.

Peka terhadap “Parfum”

Tiga kegiatan untuk menemukan atau bertemu ide tadi akan mendorong kepekaan seorang penulis terhadap “parfum”. Lho, kok parfum? Ini akronim kreatif yang saya buat untuk menyebut peristiwa, fenomena, dan momentum.

Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita pasti menghadapi peristiwa dan besar kemungkinan mengalami sebuah fenomena atau momentum. Peristiwa sesuatu yang terjadi tanpa dapat kita ketahui atau prediksi sebelumnya. 

Banyakperistiwa biasa yang menjadi tulisan menarik. Lalu, ada pula peristiwa yang luar biasa menjadi tulisan yang sangat menarik.

Jika tidak peka terhadap peristiwa yang terjadi, baik tingkat lokal, regional, atau internasional, seorang penulis akan selalu tertinggal dan kesulitan meramu tulisan. Karena itu, peristiwa rutin yang terjadi sehari-hari, bagi penulis yang peka akan menjadi tulisan unik sekaligus menarik.

Satu lagi yang mungkin dialami para penulis adalah sebuah fenomena.  Fenomena ditandai oleh suatu gejala yang pada umumnya dapat diprediksi akan mendatangkan kenyataan, baik yang positif maupun yang negatif. 

Contoh fenomena yang tergolong fenomena alam baru-baru ini adalah gerhana bulan total yang disebut Super Blue Blood Moon. Para astronom sudah dapat memprediksi fenomena alam langka ini yang terjadi sekira 150 tahun sekali—sebelumnya terjadi pada 31 Maret 1866.

Tiga peristiwa menjadi satu, yaitu tampaknya bulan purnama yang besar (supermoon), lalu bulan berwarna merah kebiruan (blue blood moon), dan gerhana bulan total.
Bagi seorang penulis, fenomena langka ini tentu dapat menjadi tulisan yang dikaitkan dengan banyak hal, tidak harus pada astronomi. Di sinilah alam menyediakan gagasan, penulis tinggal mengerahkan kemampuannya menata kata.

Ada lagi fenomena dalam bentuk tren dan kecenderungan yang terjadi di sekitar kita. Misalnya, seorang penulis mengamati bagaimana film Indonesia berangsur-angsur menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan, mencatatkan rekor box office seperti film Dilan 1990 yang telah menembus angka 4 juta penonton dan diprediksi masih akan terus bertambah. Jadi, fenomena apa ini?

Terakhir, adalah momentum. Momentum dapat berupa suatu peristiwa yang diperingati setiap tahun, waktu yang ditetapkan untuk melakukan sesuatu, atau kesempatan yang telah ditunggu-tunggu. Hal yang paling gampang, di saku kreativitas seorang penulis pasti sudah ada deretan tanggal momentum peringatan yang dapat dijadikannya tulisan.

Ia juga dapat menulis tentang momentum peluncuran sebuah produk sembari meresensi atau meninjau produk itu yang berguna sebagai informasi untuk orang lain. Dengan demikian, momentum mendorong lahirnya banyak gagasan untuk dituliskan.

Jadi, itu rahasia yang ingin saya bagikan terkait bagaimana seorang penulis menjadi produktif terus menulis, bahkan dengan kejaran tenggat. Ia harus peka terhadap peristiwa, fenomena, dan momentum yang terjadi setiap hari.

Karena itu, setiap hari bagi para penulis dan umumnya manusia sejatinya sebuah karunia. Karunia itu menjadi keberkahan manakala manusia menggunakan pancaindranya untuk hal-hal yang maslahat, salah satunya menyelami peristiwa, fenomena, dan momentum.

Pemicu Penemuan Masalah 
Parfum tersebut efektif sebagai pemicu (trigger) bagi penemuan masalah. Ide sejati bagi para penulis itu adalah “masalah” karena hal itu menarik orang untuk membacanya dan berharap penulis memberikan tip, kiat, atau solusi menghadapi masalah. 

Para calon sarjana atau peneliti didorong untuk menemukan masalah, mengajukan dugaan sementara, lalu melakukan penelitian dengan berbagai metode sehingga ia menemukan hasil sebagai solusi. Itulah yang mereka tuliskan di dalam skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian. 

Karena itu, penulis tidak sekadar menemukan peristiwa, fenomena, dan momentum tanpa ada masalah di dalamnya. Tulisannya menjadi hilang kemenarikan atau kepentingannya apabila yang dibahas hanya deskripsi peristiwa, fenomena, atau momentum. Masalah harus ditemukan yang tersembunyi di balik “parfum”.

Maka, kenali dan bauilah “parfum” itu sebelum wanginya menguap begitu saja dan kita tak menyadari sampai menghadapi kebuntuan menulis. Hidup adalah anugerah, “parfum” itu niscaya.