KOLOM Editor : Ivan Aditya Selasa, 06 Februari 2018 / 11:24 WIB

Menakar Manfaat Ekonomi NYIA

MESKI masih ada persoalan yang belum tuntas, pembangunan bandara baru Yogya saat ini terus dilaksanakan. Dan manfaat pembangunan infrastruktur dapat dibagi secara garis besar menjadi dua, yaitu manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang terkait langsung dengan kegiatan infrastruktur, baik pada tahap pra, konstruksi, maupun operasional. Kegiatan pada tahap pra-konstruksi dapat berupa kajian kelayakan, detail desain, pengukuran, penyiapan lahan dan sebagainya. Kegiatan pada tahap ini lebih banyak dilakukan oleh konsultan perencana maupun pihak yang terkait dengan penyiapan lahan (penimbunan, penggalian, pembersihan lahan). Para pemilik lahan juga menjadi pihak terkait pada tahap ini.

Kegiatan pada tahap konstruksi berupa pembangunan infrastruktur, didukung supplai bahan/material, serta pengawasan pelaksanaan. Penyerapan tenaga kerja pada tahap ini lebih besar, karena mencakup kegiatan dari pengadaan bahan, distribusi, pembangunan serta pengawasannya. Pihak-pihak yang terkait mencakup kontraktor, penyedia material/bahan, serta konsultan pengawas.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Kegiatan pada tahap operasional mencakup kegiatan yang berhubungan dengan fungsi infrastruktur. Pada infrastruktur bandara, pihakpihak yang terkait mencakup pengelola bandara, maskapai penerbangan, pemanfaat ruang/tenant bandara, penyedia layanan transportasi, pergudangan, para penumpang serta pemerintah sebagai penerima pajak dan retribusi. Jumlah pihak yang terkait langsung pada tahap ini lebih besar, yang dipengaruhi juga oleh status dan kelas bandara. Semakin luas jangkauan rute yang ditawarkan, serta semakin penting posisi bandara dalam jaringan penerbangan, akan semakin besar skala kegiatan yang ditimbulkan.

Kegiatan Turunan

Manfaat tidak langsung dari pembangunan infrastruktur diperoleh dari kegiatan turunan yang ditumbuhkan dari keberadaan infrastruktur. Dapat disebutkan misalnya keberadaan hotel, rumah makan, parkir yang diusahakan oleh masyarakat di sekitar bandara. Dalam jangkauan lebih luas, dampak tidak langsung dapat ditunjukkan oleh berkembangnya destinasi pariwisata karena kemudahan akses yang diberikan. Rencana pemerintah mengembangkan jaringan jalan Kulonprogo - Borobudur melalui program bedah Menoreh misalnya, merupakan salah satu upaya mengoptimalkan manfaat tidak langsung tersebut.

Manfaat langsung dan tidak langsung yang diterima dari keberadaan bandara secara kuantitatif dapat dihitung dari besarnya aliran uang yang terjadi karena transaksi barang dan jasa yang terjadi. Secara makro, nilai tersebut dikuantifikasi dalam besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Semakin besar nilai PDRB menunjukkan semakin besarnya nilai kegiatan dan manfaat ekonomi yang ditimbulkan.

Yang seringkali perlu menjadi perhatian adalah sejauhmana manfaat ekonomi tersebut dapat diterima secara adil oleh masyarakat yang terdampak. Hal ini penting, karena fakta yang ada menunjukkan bahwa tidak semua pihak menerima manfaat yang sama dari pembangunan infrastruktur. Keberadaan infrastruktur justru seringkali menjadi pemicu terjadinya kesenjangan pendapatan antar penduduk dan wilayah. Hal ini karena infrastruktur, khususnya yang dijalankan secara murni komersial seperti jalan tol dan bandara, manfaat terbesarnya diterima oleh pihak investor, yang notabene tidak memiliki keterkaitan langsung dengan masyarakat sekitar. Hal ini berarti, keberadaan infrastruktur tidak serta merta dapat diharapkan menjadi pendorong peningkatan perekonomian wilayah.

Pendorong

Di sinilah peran pemerintah - sebagai pihak yang mengelola pendapatan dari pengoperasian infrastruktur dalam bentuk pajak dan retribusi -menjadi penting. Pemerintah diharapkan mampu mengelola transfer dana tersebut untuk diserahterimakan kembali kepada masyarakat melalui berbagai program pembangunan. Berbagai program, baik yang menyasar peningkatan akses, penyediaan fasilitas ekonomi dan sosial wilayah, maupun peningkatan SDM diharapkan akan mampu menjadi pendorong berkembangnya perekonomian di masyarakat yang dipicu keberadaan infrastruktur.

Dalam skema itulah seharusnya NYIA berperan sebagai salah satu pendorong berkembangnya perekonomian wilayah, khususnya Kabupaten Kulonprogo yang saat ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya di DIY. Berhasil atau tidak harapan tersebut, mungkin hanya waktu yang mampu menjawabnya.

(Dwi Ardianta Kurniawan ST MSc. Peneliti pada Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral), UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 6 Februari 2018)