Tiba di Asmat, Miris..Tim Deru UGM Menjumpai Hal Ini

Tim DERU UGM. (Foto: Humas UGM)

YOGYA (KRjogja.com) - Tim Disaster Response Unit (DERU) UGM berhasil menembus wilayah Agats, Kabupaten Asmat, Papua setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan.

Sesampai di Agats, Jumat (26/1), kata Rachmawan, mereka berpencar untuk membantu penanganan KLB gizi buruk dan campak serta ikut memetakan berbagai persoalan lain yang dihadapi warga Asmat dari persolan layanan kesehatan, infrastruktur, teknologi hingga kondisi sosial budaya. Pemetaan tersebut dilakukan dalam rangka pengiriman mahasiswa KKN UGM dalam waktu dekat.

Di Agats, ibukota Asmat, para perawat dan dokter anggota tim ikut serta membantu penanganan pasien anak yang terkena kurang gizi. Sementara itu, peneliti dari pusat studi energi juga melakukan pemasangan panel surya di puskesmas distrik Sawaerma.

“Menuju distrik ini bisa ditempuh 50 menit lewat speed boat dari Agats,” katanya. Menurut Rachmawan dari 23 distrik yang ada di Asmat hanya dua distrik yang terjangkau oleh PLN, sementara yang lainnya masih menggunakan genset.

Selain persoalan infrastruktur, minimnya moda trasportasi dan jauhnya akses layanan kesehatan yang bisa dijangkau juga masih menjadi kendala. Racmawan menyebutkan dari 23 distrik, sementara ini hanya ada 16 distrik yang memiliki puskesmas. Dari 16 tersebut, baru 5 puskesmas yang memiliki tenaga dokter.

Persoalan lain yang dipetakan oleh tim UGM, kata Rachmawan, yakni kondisi tempat tinggal warga Asmat yang mayoritas berada di daerah rawa dan menggunakan sumber air minum dari air hujan sehingga menyebabkan kondisi sanitasi lingkungan yang cukup memprihatinkan.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD, salah satu anggota tim medis yang ikut dalam tim UGM, menuturkan anak-anak yang menjadi korban meningal akibat campak disebabkan karena menderita kurang gizi. “Kurang gizi menyebabkan infeksi campak dan infeksi lain, sebab saat kurang gizi akan menurunkan daya tahan tubuh,” katanya.

Menurutnya, kasus kurang gizi bukan hanya terjadi dalam 2-3 minggu saja, namun bisa terjadi dalam waktu yang cukup lama sehingga menimbulkan banyak korban. Menurut Hendro untuk mengatasi kasus gizi buruk tidak bisa dilakukan dengan program pemenuhan logistik semata, namun ditindaklanjuti dengan program selanjutnya, dari sisi layanan kesehatan, infrastruktur, dan sosial budaya masyarakatnya.

Doker speslialis anak RS UGM, dr. Fita Wirastuti, Sp.A., mengatakan kasus gizi buruk memang berisiko menyebabkan potensi terjangkitnya penyakit yang lain pada anak. Untuk mencegah terulangnya kasus campak akibat gizi buruk tersebut, selain dilakukan imunisasi perlu juga dilakukan peran aktif puskemas dan warga dalam berpartisipasi mengakses layanan kesehatan

Ia berpendapat melalui kegiatan KKN PPN UGM diperlukan pendampingan dan peran aktif tenaga medis puskesmas berkeliling kampung untuk melakukan promosi kesehatan karena masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan. “Perlu dipikirkan untuk menarik warga meluangkan waktu mengikuti program dari puskesmas,” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson;foto: Firsto)

 

Tulis Komentar Anda