Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Senin, 05 Februari 2018 / 15:55 WIB

Pesawat N 219 Diprediksi Bakal Laku Keras, Ini Sebabnya

BANDUNG, KRJOGJA.com - Melihat sambutan pasar yang cukup positif, PT Dirgantara Indonesia/PTDI (Persero) menargetkan pangsa pasar potensial pesawat N 219 mencapai 276 unit selama 10 tahun mendatang. Secara global kebutuhan pesawat sejenis ini bisa mencapai 2.000 unit.

Kepala Divisi Penjualan Direktorat Niaga PTDI, Ade Yuyu Wahyuna mengatakan, pesawat N 219 dirancang untuk memenuhi kebutuhan penerbangan, khususnya pada wilayah-wilayah dengan geografis pegunungan ataupun perbukitan. Pihaknya optimistis bisa menarik pangsa pasar yang ada.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Dari kebutuhan global yang ada, tentu kami harus menen­tukan target kami. Kita target­kan 276 unit pesawat (N219) dengan proyeksi 10 tahun ke depan,” ujarnya dalam keterangannya kepada media, Minggu (4/2/2018).

Menurutnya, selain mengincar pasar domestik, pesawat bernama Nurtanio ini juga memiliki potensi pasar ke beberapa negara lain yang memiliki karakteristik geografis seperti di Indonesia. Misalnya, sebagian besar ada di wilayah Afrika dan Amerika Latin.

“Dari 276 unit itu, hanya 96 unit yang berasal dari pasar lokal. Misalnya pemerintahan seperti Papua dan Kalimantan,” katanya.

Saat ini, pihaknya masih melakukan serangkaian uji coba terbang pesawat N 219 sebagai syarat mendapatkan sertifikasi layak terbang. Sebab, pesawat tersebut baru membukukan 17 jam terbang dari 300 jam syarat sertifikasi tersebut.

Terakhir, uji coba terbang ke 15 kalinya selama satu jam baru saja dilakukan di Landasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada pukul 09.00 WIB. Di mana, Ester Gayatri Saleh menjadi pilot pesawat.

“Ya, ini uji coba ke 15 untuk pesawat N 219 dengan jam ter­bang total 17 jam,” kata Tenaga Ahli PTDI, Andi Alisjahbana.

Sebelumnya, Direktur Uta­ma PTDI, Elfien Goentoro menerangkan, untuk mempercepat pemenuhan sertifikasi laik terbang dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pihaknya akan kemabali merilis purwarupa N219 kedua pada akhir Februari nanti.

Rencananya, purwarupa pesawat kedua N219 Nurtanio akan digunakan untuk pengujian system test, seperti avionic system, electrical system dan flight con­trol. Sehingga, dua purwarupa pesawat tersebut bisa menjalani serangkaian tes yang berbeda.

“Jadi, untuk uji terbang kita bagi menjadi dua, 50:50, tidak hanya dengan satu product de­velopment, ini untuk mengejar target jam terbang menjadi 350 jam, jadi proses sertifikasi bisa dipercepat,” katanya. Dengan begitu, serangkaian test penerbangan ini bisa selesai sesuai target yakni pada akhir Tahun 2018.(*)