KOLOM Editor : Agung Purwandono Sabtu, 03 Februari 2018 / 08:37 WIB

Pelajaran tentang Ghostwriter dari Teman Saya

ZAMAN telah berganti menjadi serbadigital dan generasi baru pun telah muncul bernama generasi milenial. Namun, ghostwriter (GW) atau di dalam KBBI diistilahkan dengan ‘penulis siluman’ masih terus bergentayangan hingga kini.

Lakon ghostwriter ini dimainkan oleh beberapa teman saya. Ia menekuni profesi ini setelah jatuh cinta pada dunia penulisan. Lalu, ia kukuhkan semangat untuk menetapi jalan penulisan. Karena itu, dalam benaknya semestinya penulisan bukan sekadar pekerjan, penulisan adalah bisnis.

Teman saya, kali lain menulis buku atas namanya sendiri. Katanya untuk sekadar menunjukkan eksistensinya berkarya atas gagasan dan pemikirannya sendiri. Ia tidak ingin orang mengenalnya sebagai GW, tetapi justru tidak mengenal karya-karya mandirinya. Karya-karya itu juga berguna sebagai portofolio dirinya dalam penulisan jasa ini.

Tidak banyak orang di Indonesia yang menekuni salah satu ceruk bisnis dunia penulisan yang disebut penulisan bayangan (ghostwriting). Kadang kala masyarakat sering salah tafsir tentang makna pekerjaan seorang GW. Ada yang menyangka para penyedia jasa karya tulis ilmiah (KTI) itu sama dengan GW. Alias mereka yang membuatkan skripsi, tesis, disertasi, dan KTI lainnya.

Bagi saya penulis semacam itu bukan GW, melainkan calo penulisan yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Pengguna jasa mereka sama sekali tidak menyumbangkan apa pun, selain uang tentunya.

Dalam ceruk bisnis dunia penulisan dikenal beberapa penulis jasa, yaitu ghostwriter, co-author, dan co-writer. Penulis siluman atau penulis bayangan bekerja memang layaknya siluman yang tidak terlihat dan penuh misteri. Mereka membantu menuliskan gagasan atau konsep yang dimiliki orang lain, tetapi namanya tidak dikreditkan/dicantumkan atas karya tersebut.

Berbeda dengan co-author dan co-writer. Nama mereka dikreditkan dalam suatu karya sebagai nama kedua mendampingi author (penulis/pengarang). Kedudukan co-author sedikit lebih tinggi daripada co-writer. Co-author turut terlibat dalam pengembangan gagasan dan penulisan, sedangkan co-writer hanya terlibat dalam penulisan.

Legalitas Jasa Ghostwriter

Tentu saja jasa penulisan bayangan itu legal karena dilakukan atas dasar perjanjian antara si pemilik gagasan (author) dan GW. Sang GW bekerja sepenuhnya atas dasar gagasan dan petunjuk author sehingga menghasilkan naskah yang layak terbit. Ia sama sekali tidak memasukkan opininya atau gagasannya ke dalam tulisan.

Di sini terjadi saling kebergantungan. Para author sangat memerlukan jasa GW karena mereka mungkin memang tidak mampu menulis dengan baik atau tidak memiliki waktu yang cukup. Jika tidak ada GW, boleh jadi gagasan-gagasan dan konsep brilian para author tidak akan pernah tersampaikan kepada masyarakat.

Informasi dari teman saya, ia bahkan membantu bukan hanya para tokoh, melainkan juga orang-orang biasa yang memiliki kisah luar biasa. Jadi, jasa penulisan bayangan ini bukan saja untuk mereka yang berduit atau populer di masyarakat, melainkan juga untuk semua orang yang memiliki gagasan atau kisah luar biasa.

Namun, tidak dimungkiri bahwa di satu sisi GW adalah seorang penulis profesional yang bekerja berdasarkan bayaran. Tarif mereka bervariasi. Bahkan, ada yang bekerja dengan tarif seharga mobil kelas menengah untuk satu buku (Rp150—Rp250 juta).

Karena itu, kata teman saya ketika ia menemukan klien yang secara finansial tidak mampu membayarnya, tetapi memiliki gagasan yang sangat bagus atau latar kisah yang menarik, ia tetap akan membantu. Banyak model kerja sama yang dapat dimodifikasi dengan prinsip saling menguntungkan.

Nasihat untuk Calon GW

Teman saya memberi nasihat untuk menjadi seorang GW juga harus siap menerima duka alias kejadian yang tidak diinginkan. Sering juga klien ternyata mangkir membayar setelah pekerjaan selesai. Ada juga klien yang “mencuri” gagasan pengembangan naskah setelah ia mengajukan proposal yang di dalamnya terdapat konsep. Biasanya klien seperti ini akan mencari penulis lain yang dapat dibayar murah.

Demi mengamankan modus para klien yang kurang baik, teman saya mengingatkan untuk selalu bekerja dengan perjanjian hitam di atas putih. Paling tidak ada kekuatan hukum yang dapat digunakan jika terjadi wanprestasi dari klien.

Hal lain yang diingatkan teman saya adalah tentang kesiapan tarif. Seorang GW profesional harus sudah menetapkan tarif terendah dan tarif tertinggi yang patut diterimanya. Dengan adanya “batas bawah” dan “batas atas” ini, ia leluasa untuk memutuskan dengan memperhatikan kondisi berikut: 1) kemampuan finansial klien; 2) tingkat kesulitan penulisan; 3) risiko-risiko yang mungkin timbul; 4) estimasi waktu yang diperkirakan untuk penggarapan sampai selesai.

Bayaran seorang GW dapat dengan tarif per halaman ataupun tarif per proyek buku. Contohnya untuk sebuah biografi, teman GW saya menetapkan tarif paling rendah adalah Rp50 juta untuk satu proyek penulisan. Proyek penulisan sebaiknya dikerjakan tidak lebih dari tiga bulan karena jika lewat tiga bulan maka akan menimbulkan biaya operasional tambahan sehingga cenderung merugikan.

Untuk itu, penting sekali seorang GW berdisiplin terhadap waktu dan tenggat (deadline) yang sudah ditetapkannya bersama klien. Soal waktu, terkadang ada klien yang meminta waktu yang pendek. Untuk kasus ini, tidak masalah jika klien berani membayar lebih.

Nasihat terakhir dan penting dari teman saya bahwa harus disadari lakon sebagai penulis jasa itu sama dengan lakon konsultan. Klien pasti akan mengajukan berbagai pertanyaan. Pertanyaan itu dapat merupakan cara ia mengetes seorang GW dan dapat pula karena memang ia tidak tahu.

Karena itu, GW harus menguasai segala segi tentang penulisan, proses penerbitan, hingga proses pencetakan, bahkan juga digitalisasi sebuah karya. Pertanyaan teknis sering dilontarkan klien, GW harus menjawabnya dengan taktis. Jika GW tidak mampu menjawab, kredibilitasnya pasti dipertanyakan.

Klien juga akan bertanya tentang bagaimana proses penulisan bayangan ini dilakukan. Biasanya GW akan memulainya dengan penyiapan kerangka tulisan (outline) dan memerlukan persetujuan klien. Baru setelah itu dilakukan pengumpulan bahan dengan berbagai metode, seperti wawancara, studi pustaka, studi kasus, dan observasi.

Bagaimana, Anda tertarik menjadi seorang GW atau penulis jasa?  Anda dapat belajar dari nama-nama berikut ini: Alberthiene Endah, Anang Y.B., Fachmy Casofa, Agoeng Widyatmoko, Dodi Mawardi, dan beberapa lagi. Informasi tentang bagaimana mereka bekerja memang sebuah misteri. Namun, bayaran mereka terkadang membuat bulu kuduk merinding. He-he-he. (*)